Lingkungan · Writing Contest

Resolusi Hijau 2015 : Menghormati dan Menghargai Hak Alam

“Lagi, Jakarta menerima banjir kiriman dari Bogor” , terdengar penyiar berita menyampaikan informasi. Nada tuduhan itu terasa sangat akrab di telinga saya. Sebagai warga Bogor, tuduhan itu menusuk di hati. Berkali-kali disalahkan karena ibu kota tak sanggup menampung kiriman air dari Tuhan. Siapa suruh jadi kota yang berdekatan dengan Bogor, celoteh hati.

Kota hujan, Bogor, sangat terkenal dalam ‘keahlian’ mengirimkan banjir. Tuduhan menjadi sebuah solusi yang paling ampuh, untuk menutup permasalahan banjir di Jakarta. Kini, banjir terjadi dimana-mana. Awal tahun kemarin, banjir bandang menimpa Manado.

Sejatinya, secara siklus hidrologi, air itu adalah satu. Air hanya berubah tempat dan wujud saja. Sifat air sederhana, mengalir ke tempat yang lebih rendah. Air mengalir menuju sebuah muara besar yang ia temui. Dengan permukaan tanah yang mendukung, penjagaan hutan, drainase yang baik serta penjagaan keseimbangan perubahan fungsi lahan, jumlah air sebanyak apapun, hujan sebesar apapun akan dapat diterima oleh permukaan tanah dan diserap ke dalam tanah. Seperti sebuah spons yang menyerap habis seluruh air yang ada di sekelilingnya.

Tidak bijak mengelola sumber daya alam akan mengundang terjadinya bencana. Kondisi permukaan tanah kian hari kian gundul, pembangunan gedung dan pabrik dimana-mana, tata ruang yang tak ramah lingkungan, minimnya daerah resapan mengundang potensi bencana semakin luas.

Sejenak berkontemplasi

Satu tahun yang lalu, kita membuang minimal satu buah sampah plastik yang akan bergabung dengan 250 juta sampah penduduk lainnya di Indonesia di luas bidang tanah yang tidak bertambah.

Satu tahun yang lalu, hujan telah mengguyur bumi berhari-hari, adakah satu pohon yang telah kita tanam?

365 hari yang lalu, adakah kita mengajak orang terdekat untuk tidak membuang sampah di jalanan, di sungai-sungai, di parit depan rumah?

Satu tahun yang lalu, berapa pack tissue yang sudah kita habiskan hanya untuk sekedar membersihkan wajah atau menyerap minyak dari cemilan gorengan?

Delapan jam setiap harinya, satu tahun yang lalu, sudah berapa banyak kertas yang sudah kita habiskan?

Banyak hal yang kecil yang sering kita abai, bahwa sebenarnya kita turut berperan menggerogoti pohon-pohon bumi yang berdiri kokoh melindungi.

Resolusi Hijau di Tahun yang Baru, Tahun 2015

“Mari kita mulai saat ini, memulai dari hal yang kecil, untuk membangun kekuatan individu menuju terjalinnya sebuah kekuatan besar demi kelestarian sumber daya alam”.

natureThe Nature Conservation Program Indonesia, sebuah lembaga non profit yang memiliki semangat tinggi untuk menjaga kelestarian sumber daya alam. Melestarikan keanekaragaman hayati dengan solusi -solusi inovatif terhadap permasalahan alam dan bukan konfrontatif untuk mengatasi masalah alam yang sangat kompleks merupakan lingkup kerja lembaga ini.

“Melindungi alam, Melestarikan kehidupan” merupakan tagline-nya yang membutuhkan sebuah komitmen luar biasa dalam meningkatkan kesejahteraan Indonesia dengan mempercepat transformasi di bidang konservasi dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan dengan tetap menghormati dan menghargai hak-hak alam. Menghormati dan menghargai hak-hak alam dengan tetap memperhatikan prinsip ekosistem sehingga tidak melukai alam itu sendiri.

“Beribu-ribu langkah kecil, bisa berubah menjadi sebuah awal perubahan besar”. Hal-hal kecil yang kita lakukan untuk menghormati hak-hak alam memberi pengaruh yang sangat besar terhadap penjagaan kelestarian alam. Mari mulai dari hal-hal sederhana dan saat ini juga.

  1. Diet kantong plastik

Kebiasaan membawa kantong sendiri saat belanja merupakan kebiasaan kecil yang bisa menyelamatkan bumi , menunda penuaan wajah bumi yang sudah terlihat renta kini. Terlebih jika menyiapkan kantong belanjaan yang reusable. Melipat kantong belanja tersebut dan menyimpannya dengan rapi di salah satu sudut tas atau meja kantor dapat menjadi sebuah solusi ringan dan tepat sebagai salah satu wujud cinta bumi. Kini, justru semakin banyak penyediaan kantong ramah lingkungan yang telah disediakan oleh pusat-pusat perbelanjaan, sehingga memudahkan konsumen dalam menggunakannya.

2. Bijak menggunakan kertas

Tingginya penggunaan internet dalam segala sisi kehidupan, tidak menghilangkan peran penting dari pemakaian kertas. Posisi kertas dalam wujud buku, agenda, note book, atau laporan tahunan tetap saja dibutuhkan dalam bentuk lembaran-lembaran bukti dokumentasi.

Terkadang justru kertas dipakai untuk hal yang tidak penting. Misalnya, mencorat coretnya tak karuan, menggunakannya sebagai mainan dengan menyobek beberapa kertas hanya untuk melampiaskan jiwa bermain bagi anak-anak kecil, atau banyak yang hanya menggunakan satu sisi kertas saja dengan membiarkan sisi belakang dengan kondisi kosong. Banyak pohon yang harus ditebang untuk menghasilkan selembar kertas. Dan butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa memanennya dan kemudian mengubahnya menjadi bubur kertas. Namun, sangat mudah menemukan kertas-kertas yang sudah dibuang begitu saja, meski masih memungkinkan untuk menggunakannya secara maksimal.

3. Bijak menggunakan tissue

Setiap hari, banyak kegiatan yang bersinggungan dengan pemakaian tissue, mulai dari membersihkan wajah, atau membersihkan debu yang menempel di laptop. Begitu cepat tangan kita meraih tissue dan menggunakannya. Terlebih bagi perempuan. Tissue menjadi benda wajib di dalam tas. Dalam 1 pack terdapat 20 lembar tissue. Dan, ternyata dari 1 pohon berumur 6 tahun hanya bisa menghasilkan 2 pack tissue saja, atau 40 lembar 1. Jika satu perempuan menghabiskan satu pack tissue, misalkan dalam waktu 3 hari, bayangkan berapa banyak pohon yang harus ditanam untuk menyeimbangkan tissue yang sudah terpakai itu.

Ditambah lagi, kebiasaan menggunakan tissue untuk menyerap minyak cemilan gorengan yang kita makan, meski mungkin tahu kontaminasi chlor, sebagai pemutih yang biasa diberikan untuk memutihkan tissue, dapat bermigrasi ke makanan kita. Padahal kita bisa saja mengkonsumsi banyak buah dan sayur untuk memerangi minyak ‘jahat’ yang kita konsumsi sendiri.

Secara tidak sadar, kita sedang menggunduli hutan kita sendiri. Meski kita suka berkoar-koar dengan mengkampanyekan ‘save the earth’. Kebiasaan penggunaan tissue menjadi bijak jika menggantikannya dengan penggunaan sapu tangan, kuas pembersih, atau lap pembersih sesuai fungsinya.

4. Menanam satu pohon

Pohon adalah sandaran kehidupan. Akarnya yang menghujam bumi menjadi cengkraman kekuatan sekaligus pelindung bagi bumi. Jika itu hilang satu persatu, hilang juga perlindungan bumi, demikian juga sandaran kehidupan kita. Menanam satu pohon kemudian memeliharanya hingga memiliki akar dengan cengkraman kuat membuat kita memiliki satu pohon perlindungan. Menanam satu pohon saja, mudah bukan?

 Kehidupan butuh sebuah keseimbangan. Keseimbangan hanya bisa terjalin dengan menghormati hak-hak setiap makhluk hidup. Sebagaimana manusia, alam sebagai bagian makhluk hidup juga perlu dihargai hak-haknya. Jakarta, sebagai kota yang hidup berdampingan dengan kota hujan, itu layaknya saudara. Sesama saudara harusnya saling menjaga. Telah banyak hak alam Jakarta yang telah direnggut, setiap langkah kecil dari masing-masing diri pasti sangat berarti.

 

Sumber referensi:

  1. http://www.apakabardunia.com/2013/01/tissue-si-pembabat-pohon-dunia.html
Advertisements

One thought on “Resolusi Hijau 2015 : Menghormati dan Menghargai Hak Alam

Comments are closed.