Percik Hati

Hujan Pagi Ini

credit here
credit here

“Hujan itu baik ya. Ia selalu datang pada waktu yang tepat, serasa punya telepati sama hujan”, Anis berucap lirih.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Anis masih saja duduk santai di kursi yang memang sengaja diletakkan di dekat jendela. Salsa, teman sekamar Anis sedang bersiap berangkat kuliah sedari tadi. Ia melihat ulang bawaannya untuk kuliah pagi ini.

“Huuuu.. Anis suka gitu. Sok sok nyama-in frekuensi mood sama frekuensi hujan. Kalo mau hujan, ya hujan aja. Gak pake permisi dulu kali sama NENG ANIS”, Salsa menjawab asal celoteh Anis.

“Iya Sa, emang aku siapa sampe dimintain izin sama hujan.  Tapii… buatku hujan itu selalu datang pada momen yang pas. Kayak pagi ini Sa, dari kemaren pagi gak ada hujan Sa. Kok bisa pagi ini tiba-tiba hujan. Ini tanggal 17  Sa..” Anis nyerocos juga jawabnya.

“Halaaaahhh, bilang aja kalo lo lagi malas kuliah. Hujan kamu jadiin kambing hitam, udah sana, mandi dulu”, jawab Salsa. Salsa lemparin handuk ke arah Anis, agar ruang imajinya tersentak. Untuk menggantikan kenangan lara Anis tentang hujan.

“Iye iye, bawel amat neng pagi-pagi”, dengan langkah malas, Anis menuju pintu kamar mandi.

Sudah 6 bulan dan tahun ini mereka genap 3 tahun tinggal di kosan yang sama. Salsa, sahabat dekat Anis. Sejak 6 bulan yang lalu juga, Anis punya hobi baru. Ia suka mendengar rinai hujan. Suka duduk di dekat jendela dengan posisi yang sama. Kaki diangkat keatas kursi, melipat, dan memeluknya dengan kedua tangannya. Terdiam. Seakan waktu berhenti, hanya ada Anis dan hujan. Salsa sudah sangat hafal dengan prilaku Anis ini. Namun ia tak bisa berbuat banyak. Mengingat sedikit potongan kenangan itu saja sudah membuat sudut matanya berlinang.

“HEY!, ngayal mulu pagi2. Sarapan sana?”
Teguran Anis membuat Salsa tersadar dari lamunan.
“Neng itu mandi apa kumur-kumur?. Cepat amat”, tanya Salsa
“Ehh, gak pake komentar deh, udah setengah delapan ituuu”, Anis menyambar pasmina biru yang tergantung di belakang pintu.
Tidak sampai 5 menit, pasmina itu sudah menutup kepalanya dengan sempurna. Bros bunga coklat disematkannya di ujung pasmina. Menyempurnakan ingatannya kembali, tentang sebuah kenangan di hujan pagi ini.

***
Bros bunga coklat itu adalah pemberian Nisa. Adik semata wayang Anis. Mereka memiliki tanggal dan bulan lahir yang sama. 17 Maret. Mereka berdua hanya beda satu tahun. Umur yang hanya terpaut satu tahun membuat mereka menjadi sangat dekat.  Nisa tidak hanya menjadi seorang adik, namun ia sekaligus sahabat dalam kebaikan atau bahkan ketika melancarkan rencana jahat. Bolos kuliah di hari jumat demi nonton film terbaru pernah sekali dua mereka lakukan. Bareng-bareng ngejailin anak kosan, terutama Salsa, menjadi kesenangan tersendiri. Namun dibalik itu, Nisa bagai pengawal dan  pengingat bagi Anis. “Keluar malam boleh aja kak, tapi pulangnya jangan malem-malem, kasian dong ama Nisa capek nungguin kakak”, di beberapa malam kala Anis pulang lewat jam malam.  “Udaahh, maen game-nya berenti duluu.. hayo sholat dulu kak”, di tiap waktu Nisa mengingatkan saat Anis sedang asyik main game. Tapiii…. itu dulu…, enam bulan sudah, ia tidak mendengar teguran itu lagi. Penyakit thalasemia yang Nisa derita, turut membawa teguran-teguran itu pergi. Di pertengahan maret yang lalu,  di dipan Rumah Sakit Ciptomangunkusumo, Nisa pergi dengan sebuah senyum. Waktu yang lebih cepat dibanding perkiraan dokter. Bingung menghampiri, ia tak menyangka kebersamaan dengan adik terkasih berakhir sudah. Hilang sudah pengawal dan pengingatnya. Alam tampak turut bersedih. Kaca rumah sakit terlihat basah. Diluar, sedang turun hujan. Pipi Anis basah, tangisnya terus mengalir. Sejak saat itu, Anis suka mendengar rinai hujan.

***
“Anis.. Anis.. Anis..”, Salsa sedari tadi memanggilnya berulang. Tepukan di bahu, baru menyadarkan Anis.

“Ayo, berangkat !”, Salsa meraih tas Anis dan turut membawanya bersama dirinya.

Salsa paham, hujan pagi ini membuka kembali kenangan  Anis tentang adiknya, Nisa. Cerita yang tak bosan diulang Anis kala malam ditemani hujan.

Sembuhkan hatinya Tuhan, gantikan dengan yang lebih baik, Salsa berdoa dalam hati.
Anis berjalan pelan keluar kamar. Ia me-lap airmata dengan punggung tangannya.

“Ayo Nis cepetan,  ntar kita telat lagi. Aku serem sama tugas si Bapak”, ajak Salsa
“Oiya, lupa sayah”, Anis seketika jalan cepat meninggalkan Salsa.
“Ni anak ya, ditungguin malah ninggalin”, Salsa setengah berlari mengejar Anis menuju ruang kelas B01.

Advertisements

4 thoughts on “Hujan Pagi Ini

Comments are closed.