Love Life · Percik Hati

Satu Buku Sebelum Mati

mba muyassaroh Senja sore sudah terlihat. Tetiba notification dari fesbuk berbunyi, “Muyassaroh tagged you in a post”, klik, aku menunggu postingan terbuka sempurna.  Ada foto kami berdua disana, hmm, sekilas aku teringat pada postingan mba Muyass di blog pribadinya. Mungkin, si mba lagi nge-share isi blog. Begitu fikirku. Status yang diposting kali ini panjang, as usual. Tak heran, Si Mba suka buat status-staus panjang, berisi fiksi-fiksi mini yang rajin ia share. Tapiii.. aku terhenti, statusnya kali ini bukan cerita fiksi tentang kangen seorang istri pada suaminya yang jauh, bukan tentang  konflik makanan sepasang suami istri. Tapii… sebentar, ada namaku disebut disana?

Seketika malam ini menjadi malam yang tidak biasa. Status tersebut menegur ruang sadarku.

“Apa kabar mimpimu Mba?”
“Sudah sampai mana?”
“Apakah masih sama?”
“Atau sudah berubah?”

Ahhhh, persahabatan ini terlalu indah, mataku berkaca-kaca. Tak sanggup membaca “surat cinta” itu, lebih lagi. Mengapa ada seseorang yang begitu peduli pada mimpiku?.. Aku tertegun. Terdiam. “Halo Mba Desi, apa kabar mimpimu Mba?, sudah sampai mana?”. Kalimat-kalimat itu menjadi monolog dalam batinku berulang-ulang.

9 Maret 2014, takdir mempertemukanku dengan seorang wanita muda yang kukenal lewat twitter. Takdir memilih kami untuk menang kuis workshop kepenulisan. Sebuah pelatihan kepenulisan  yang diselenggarakan oleh Bunda Asma Nadia, Isa Alamsyah dan Komunitas Bisa Menulis. Perkenalan singkat di twitter diakhiri janjian ketemu di hari workshop. Tiba di hari H, wanita muda itu diantarkan oleh suaminya, beserta anak dan seorang perempuan. Aaahhh, so sweet banget sih, mau pelatihan aja, diantar ama suami plus anak, batinku saat itu. Hehe, jangan marah ya mba muyass sayang.

Setelah mengisi buku tamu peserta, kami memasuki ruangan besar, peserta sudah ramai. Acara on time, tampaknya sudah dimulai 10 menit yang lalu. Tanpa pikir panjang, memilih dua bangku kosong, kita duduk berbarengan. Pelatihan kepenulisan itu menjadi awal pertemuan dari “taaruf” kami. Kurang lebih dari 5 jam, acara pelatihan selesai. Pertemuan yang singkat dan sederhana.

Tak disangka, pertemuan singkat itu berlanjut manis hingga sekarang. Pertemuan itu menjadi lahirnya sentilan-sentilan status yang menyadarkanku selalu pada teriakan kami saat workshop. “SATU BUKU SEBELUM MATI”, itu janji kami. Satu ‘calon buku’ yang aku tak punya gambaran jelas sedikitpun saat ini, buku apa yang akan menjadi buah karyaku sebelum mati.

Aku memang begitu maruk. Maruk pada setiap kesempatan yang hadir. Saat pengumuman workshop menulis itu diposting di Komunitas, Aku merasa wajib untuk menghadirinya. Ingin tau dunia tulis menulis yang lebih serius dan ‘pengennya’ bisa profesional. Bukan sekedar postingan curhat yang hanya selesai menjadi sebuah postingan di blog dan memuaskan hati lara saja.

Aku memang suka menulis. Menulis jadi bagian hidupku sejak belasan tahun yang lalu. Menulis adalah salah satu cara buatku untuk menikmati hidup. Selain makan dan jalan-jalan hehe. Lewat workshop ini, mimpi menjadi  seorang penulis, semakin mencuat ke permukaan.

Mimpi  yang mencuat, terkadang timbul tenggelam. Mungkin karena itu, Tuhan mengirimkan seorang Mba Muyass yang suka menyentil dan mengingatkanku tentang janji kami, ” Satu Buku Sebelum Mati”. Mimpi yang menyebutkannya pun selalu membuatku merinding. Hanya kekuasan Tuhan saja yang bisa membuat mimpi itu jadi nyata.  Aku bukan penulis ulung seperti  Bunda Asma Nadia, atau Tere Liye. Aku hanya pemimpi yang suka menulis dan ingin jadi penulis.

Sahabat dengan mimpi yang sama, susah dapet-nya. Tuhan teramat sayang, Ia menganugerahkan seseorang yang begitu merasa penting apakah aku masih “on the track” pada mimpi itu. Bersyukur dan berterimakasih pada hari ini untuk sebuah teguran cinta. Hari yang akan menjadi saksi perjalanan untuk perjuangan menuju impian itu, insy.

Buat Mbasay Muyas..

Satu Buku Sebelum Mati, insy.
Mari tertatih-tatih
Mari berdarah-darah
Jangan bilang jadi penulis jika tak cinta menulis
Smoga kelak bisa menebar manfaat
Smoga Tuhan mewujudkan impian ini
Dekap erat semangat ini
Semoga aku bisa menjadi sahabat yang tidak ingkar janji
Semoga persahabatan ini kekal hingga ke surga
Peluk sayang dari jauh Mbasay :*

penulis

 

Advertisements

4 thoughts on “Satu Buku Sebelum Mati

Comments are closed.