Writing Contest

Membangun Persepsi Positif Untuk Kelestarian Jamu Indonesia

Tahun 1994, seorang gadis menunjukkan tanda-tanda kedewasaan.  Ia mengalami menstruasi pertama kali. Khawatir merajai. Syukurnya kejadian itu terjadi di rumah, bukan di sekolah. Sore itu, dengan malu-malu  dan sedikit berkeringat, ia   mengabarkan berita tersebut  ke ibu tercinta. “Ibu, kayaknya aku dapet mens bu”, suara yang keluar terdengar seperti kumur-kumur. Ahh, kenapa lidah jadi ikutan grogi ya. Ada apa?, tanya ibu berulang. Gadis itu mengumpulkan segenap kekuatan, berusaha agar suaranya kali ini terdengar jelas. Bu, aku dapet mens Bu. Seketika si Ibu senang dan mengucapkan selamat “Terimakasih Tuhan, anakku sudah dewasa, selamat ya nak, kamu sudah dewasa sekarang”. Semua kegirangan ibu  menelan pikirannya yang sedang berkecamuk menyambut kedatangan si “tamu” yang katanya akan selalu datang tiap bulan.

***

Tahun 1997, menstruasi menjadi hal yang sudah lumrah bagi gadis tersebut. Kedatangan si “tamu” bukanlah hal yang membuatnya grogi. Bulan ini berbeda. Kedatangan si “tamu” disertai nyeri hebat di sekitar perut. Tidak biasanya. Ada keringat dingin menyertai. Wajah gadis itu  menjadi pucat. Melihat kondisi tersebut, Ibu dengan sigap  ke dapur. Tampaknya ibu sedang sibuk membuat ramuan. Setelah ramuan matang, ibu langsung memberikannya kepada gadis tersebut. Gadis itu manut saja. Nyeri masih terus mengaduk-aduk perut. Satu, dua, tiga sendok memberi rasa asam manis di lidahnya. Satu gelas ramuan habis juga di telan. Perlahan si gadis merasakan nyeri di perut berkurang.  Belakangan gadis itu tau, ramuan yang ia minum adalah jamu kunyit asem. Kunyit, asam jawa, gula merah dan sedikit air itu komposisinya. Resep ramuan yang diperoleh  ibu dari cerita nenek yang punya kondisi yang sama seperti si gadis.

***

Tahun 2000, gadis tersebut tidak tinggal dekat dengan si Ibu. Si gadis merantau. Tidak ada lagi ibu siaga untuk menyiapkan ramuan di tanah rantau. Jika “tamu bulanan’ itu datang. Gadis tersebut sekarang tidak bingung lagi. Ia bersahabat dengan sebuah ramuan mujarab. Ramuan ini tidak diminum saat hangat tetapi cukup ampuh meredakan amuk si “tamu bulanan”. Jamu yang sudah tinggal diminum, minuman sehat alami menjadi sahabat wajib setiap datang bulan. Minuman ini mampu mengurangi nyeri perut saat menstruasi. Gadis itu tidak perlu menyeduh ramuan, ia hanya tinggal meminumnya dari kemasan botol si minumanau menyeduh serbuk jamu. Tidak repot dan tidak menyedot waktu si gadis yang hidup di zaman serba instan.

***

jamu Indonesia
Pengetahuan lokal tentang racikan jamu

Indonesia memiliki 9600 jenis tanaman obat yang dapat dijadikan bahan dasar jamu. Sebanyak 1600 racikan jamu diwariskan nenek moyang  kepada generasi bangsa. Kunyit dan asam jawa, hanya dua diantara ribuan tanaman obat yang sering diracik sendiri oleh perempuan Indonesia.

Melihat kebelakang, racikan kunyit asam yang diberikan oleh ibu kepada si gadis merupakan racikan atas pemahaman sendiri. Racikan jamu tersebut tidak memiliki komposisi dan jenis bahan terstandar. Jumlah kunyit, tingkat kematangan kunyit, asam jawa serta gula yang dicampurkan menggunakan istilah secukupnya saja, tidak memiliki formula standar. Yang terpenting ada 2 komponen pokok, kunyit dan asam jawa, proses perebusan, dan pemberian air ramuan untuk si sakit. Ajaib, nyeri perut perlahan mereda.

Pengetahuan lokal seperti ini, turun temurun begitu saja, dari generasi ke generasi. Namun manusia modern saat ini, tidak ingin repot dengan meracik jamu sendiri. Semua harus serba praktis, serba cepat. Meminum jamu langsung dari botolan atau menyeduh bentuk serbuknya menjadi pilihan. Tidak repot, tinggal glek, tunggu reaksi khasiatnya.

Sejak dahulu, kunyit asam sudah dikenal sebagai minuman untuk memperlancar proses menstruasi wanita. Dari tinjauan ilmiah, kunyit memang memiliki kemampuan untuk mendorong organ hati agar menghasilkan empedu pemecah lemak. Sementara asam jawa dapat memacu denyut jantung agar memompa darah lebih baik sehingga peredaran darah jauh lebih baik. Kedua proses ini saling bersinergi untuk mengurangi nyeri perut saat menstruasi.

Istilah Jamu

Racikan kunyit asam diatas disebut dengan racikan jamu. Kenapa bukan obat herbal?. Kan terbuat dari tanaman obat, bukankah semua yang berasal dari tanaman disebut dengan obat herbal. Berbagai persepsi yang beredar di masyarakat yang merancukan jenis obat mana yang disebut dengan obat herbal atau mana yang disebut dengan jamu.

Berdasarkan keputusan BPOM, obat bahan alam Indonesia dikelompokkan menjadi 3 jenis, jamu, obat herbal standar, dan fitofarmaka. Obat bahan alam Indonesia masuk kelompok jamu bila memiliki tiga kategori, yang pertama, aman sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan, kedua, klaim khasiat dibuktikan berdasarkan data empiris, dan syarat ketiga adalah memenuhi persyaratan mutu yang berlaku.

Cara lain untuk mengenali jamu adalah melalui logo di kemasan. Pada kemasan harus tercantum logo dan tulisan JAMU. Logo berupa ranting daun yang terletak dalam lingkaran. Posisi logo berada di sebelah kiri atas wadah pembungkus dan dicetak dengan warna hijau dengan dasar putih.

jamu1

Pusat Studi Biofarmaka (PSB) yang berkantor pusat di Kota Bogor, hadir untuk mengkaji, memanfaatkan pengetahuan dan kekayaan alam untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.  PSB adalah lembaga penelitian yang berperan untuk melakukan penelitian biofarmaka mulai dari proses eksplorasi, konservasi, budidaya, ekstraksi, analisis komposisi, standardisasi, uji khasiat sampai uji preklinis. Kekosongan tahapan ilmiah di masa lalu sekarang diperankan oleh PSB.

biofarmaka ipb

Persepsi Negatif Pada Jamu 

Disisi lain, ditengah proses standardisasi yang dilakukan oleh pihak PSB, kepercayaan masyarakat terhadap jamu menurun. Maraknya jamu berbahan dasar obat kimia berbahaya telah membuat risau tidak hanya pabrik jamu tradisional, tetapi juga para pecinta jamu. Beredarnya jamu-jamu berbahaya kian mengiris pasar pembelian jamu tradisional. Hingga bulan November 2013 kemarin, BPOM melaporkan 59  jamu yang mengandung bahan kimia obat berbahaya  yang beredar di masyarakat. Masyarakat  dilanda kebingungan dan lebih memilih untuk tidak ambil resiko mengkonsumsi jamu yang tidak jelas asal usulnya.

Para praktisi kesehatan masih banyak yang ragu akan manfaat jamu Hal ini seiring dengan data Riskesdas 2010 menunjukkan  bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang, minat untuk mengkonsumsi jamu semakin menurun. Masyarakat yang memiliki pengetahuan tinggi belum tentu mengkonsumsi jamu yang khasiatnya tinggi. Mungkin kalah pamor sama produk kesehatan lain. Jamu makin tersingkir.

Krisis kepercayaan masyarakat terhadap jamu secara perlahan namun pasti menutup peluang industri jamu berkembang di negeri kita. Kecenderungan masyarakat memilih dan mengkonsumsi produk jamu impor meningkat. Masyarakat lebih percaya pada teknologi di luar negeri dibandingkan proses pembuatan jamu di Indonesia. Meski tidak semua pabrik jamu beroperasi secara tradisional, namun gaung positifnya tidak menggema di tengah masyarakat. Persepsi negatif tentang jamu masih lebih terdengar melalui berita di televisi, ataupun postingan  di media sosial.

Persepsi positif masyarakat terhadap eksistensi jamu harus terus dibangun dan ditingkatkan jika tak ingin industri jamu  kita gulung tikar. Persepsi positif ini yang akan berpengaruh langsung terhadap lestarinya jamu.

Sesuai dengan prinsip ekonomi, jika permintaan banyak maka tingkat produksi meningkat. Jika produksi terus meningkat, maka jamu akan tetap dan terus  lestari.

Tindakan pemerintah yang mempromosikan jamu sebagai obat alternatif patut diacungi jempol. Usaha ini tampak nyata dengan menetapkan empat formula jamu untuk obat hipertensi, hiperkolesterol, asam urat, dan hiperglitemi (gula darah yang tinggi). Jika usaha ini terus berlanjut di tengah masyarakat dan masyarakat dapat merasakan dampak positifnya, bukan hal yang mustahil, masyarakat akan kembali mencintai jamu.

Membangun Persepsi Positif Pada Jamu

Persepsi terbentuk dari pengalaman, harapan, dan perhatian.Ketiga hal tersebut akan beralih ke haluan positif jika keempat hal pengaruhnya juga positif.  Bagaimana persepsi kita tentang sesuatu akan menentukan tindakan kita terhadap hal tersebut. Persepsi positif terhadap jamu akan melahirkan tindakan positif terhadap jamu. Imej tentang jamu di tengah masyarakat yang sedang menurun, harus dibangun kembali melalui pembangunan imej-imej positif tentang jamu di tengah masyarakat.

Berikut beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk membangun persepsi positif pada jamu:

Pemilihan Duta Jamu
Pemilihan duta jamu dari kalangan selebritis atau petinggi negeri seperti Menteri Kesehatan dapat memperbaiki imej negatif dan membangun persepsi positif masyarakat terhadap jamu.

Re-branding  Jamu
Persepsi yang berkembang di masyarakat bahwa mengkonsumsi jamu merupakan orang kuno harus dihilangkan. Justru sebaliknya, salah satu ciri orang modern adalah mengkonsumsi jamu dan menjadikan jamu sebagai bagian dari keseharian.

Peningkatan liputan media terhadap kualitas jamu yang semakin baik
Media elektronik dan media sosial merupakan wadah untuk mengalirkan informasi yang langsung sampai ke masyarakat. Terlebih di media sosial, informasi merebak secara luas dalam hitungan detik. Media tersebut dapat menjadi cara sosialisasi solutif dalam meningkatkan persepsi positif tentang jamu di masyarakat luas. Informasi mengenai pengawasan keamanan jamu, informasi jamu yang sudah terdaftar, proses standardisasi jamu, cara membuat jamu yang baik bisa menjadi topik-topik pilihan untuk menghilangkan dahaga masyarakat tentang jamu dan eksistensinya.

Inovasi produk jamu
Inovasi produk jamu bertujuan untuk mengikuti arus perubahan zaman. Mengikuti perubahan sesuai dengan keinginan dan kesukaan agar tidak ditinggalkan oleh konsumen. Inovasi jamu dapat dilakukan melalui kemasan dan bentuk produk akhir. Mata memiliki peran menangkap kesan pertama dalam melihat produk. Jika mata say Yes, maka akan berlanjut ke tahap selanjutnya. Namun jika mata sudah NO, jangan berharap lebih untuk ke tahap selanjutnya. Kesan pertama itu harus dapat menarik konsumen untuk lebih dekat. Selain itu, inovasi kemasan memberi nilai jual yang lebih tinggi pada suatu produk.
Bentuk jamu yang paling disukai masyarakat adalah cairan. Memperbanyak jamu dalam bentuk cairan adalah salah satu cara untuk mengambil hati masyarakat agar lebih dekat dengan jamu.

Pemberian pendidikan pada penjual jamu gendong
Penjual jamu gendong merupakan penjaja jamu yang dekat dengan masyarakat. Mereka dapat menjadi duta-duta  jamu di lingkungan masing-masing yang dapat menjembatani lestarinya jamu di Indonesia. Penjual jamu gendong diberikan ilmu pengetahuan dan pelatihan tentang bagaimana cara meracik  dan merebus jamu yang baik. Pengenalan proses standardisasi jamu yang dimulai dari proses penanaman, pemanenan, hingga produk akhir patut diketahui guna menyuguhkan jamu berkhasiat untuk masyarakat Indonesia.

Tips minum jamu yang aman
1. Beli jamu di toko jamu terpercaya bukan di gerai-gerai jamu
2. Cek tanggal kadaluarsa jamu, jangan sampai terlewat
3. Untuk produk jamu berupa serbuk, serbuk jamu yang baik adalah kering
4. Patuhi dosis yang dianjurkan
5. Jika khasiat jamu yang dibeli terasa cepat pengaruh khasiatnya, curiga pada jamu yang dibeli dicampur dengan obat kimia sintetis yang berbahaya
6. Simpanlah jamu dengan baik, bukan di tempat lembab, khawatir akan ditumbuhi bakteri patogen yang membahayakan kesehatan
7. Jika khawatir, coba cek nomor registrasi produk melalui situs BPOM
8. Jadilah konsumen cerdas

***

metamorfosa jamu
Metamorfosa Jamu

Tahun ini, tahun 2014. Tidak ada rasa khawatir atau bingung lagi ketika si “tamu bulanan” itu datang. Si Gadis selalu sedia jamu untuk menyambutnya. Jamu dalam bentuk cairan atau serbuk, tinggal pilih saja. Namun kali ini, ia ingin mencoba sensasi baru. Pilihan jamu baru, Es Krim Jamu Kunyit Asam, untuk menyambut si “tamu bulanan”. Asyiknya tinggal di Indonesia :). Yang ngaku orang Indonesia, Mari minum jamu 🙂

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog Lestarilah Jamu Indonesia yang diadakan oleh Biofarmaka IPB

Logo Pusat Studi Biofarmaka 2014
Sumber referensi :
http://www.kemendag.go.id/files/pdf/2014/01/06/Kajian-Jamu.pdf
http://khasiat-temulawak.blogspot.com/2012/12/manfaat-kunyit-asam-bagi-wanita.html
http://biofarmaka.ipb.ac.id/biofarmaka/2014/Flyer%20Pusat%20Studi%20Biofarmaka.pdf
http://www.pom.go.id/pom/hukum_perundangan/pdf/penandaan_oai.pdf
http://health.liputan6.com/read/740852/daftar-59-jamu-mengandung-bahan-kimia-obat-berbahaya
http://www.riskesdas.litbang.depkes.go.id/download/TabelRiskesdas2010.pdf
http://health.okezone.com/read/2012/01/05/482/552121/kemenkes-gencar-promosi-jamu-sebagai-obat-alternatif
http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection
http://biofarmaka.ipb.ac.id/publication/journal

sumber gambar:
http://www.sobatcantik.com
http://www.vemale.com
http://www.okezone.com

Advertisements

11 thoughts on “Membangun Persepsi Positif Untuk Kelestarian Jamu Indonesia

  1. yakkk saya suka jamu berbentuk ice creaaaam, apalagi klo rasanya hangat2 dingin unik banget tuh, mmm duta jamu ide yang bagus juga biar melestarikan budaya bangsa juga

  2. huwa es krim berbahan jamunya bikin ngiler 🙂 kayaknya enak sekali panas2 begini. Ternyata inovasi jamu bikin kita makin cinta dan suka ama jamu ya mak, jauh dari kata pahit 🙂

  3. dulu sempet gak mau minum jamu lagi, soalnya mertua pernah minum jamu abal-abal buat sakit lutut, lututnya langsung sembuh sih… hanya saja efek jangka panjangnya ginjal & livernya sampe kena… tapi ya memang ternyata mesti hati-hati pilih jamu… sukses ngontesnya yaaa… 🙂

  4. Wah semua pada jualan jamu nih… saya nggak ikutan 😦 padahal untuk dies natalis kampus sendiri. Sebagai generasi muda emang wajib membangun persepsi yg bagus buat kelestarian jamu Indonesia. Good luck ya Mbak…

Comments are closed.