Writing Contest

Inovasi Buku Versi Digital Untuk Anak Indonesia

sumber disini
sumber disini

Flashback ke era taon 90-an, hahaha ketauan deh sekarang angkatan berapa. Dulu, haha, berasa tua banget dah, saya itu memang suka baca. Alhamdulillah sejak umur 6 tahun, 7 taun kali ya, pas udah bisa baca dengan bener, Umak (panggilan untuk ibu) nyediain dana agar saya dan kakak bisa berlangganan majalah anak-anak. Namanya pasti sangat akrab di telinga teman-teman. Saya tidak akrab dengan buku sewaktu kecil. Karen atidak ketemu buku anak yang pas di kota kecil saya. Berasa sedih amat ngomongnya. Tetapi justru akrab dengan majalah. Tentunya majalah anak. Nama majalahnya terdiri dari empat huruf. Arti kata tersebut adalah ‘tidur’. Udah pada tau kan?.. :). Ntar ntar.., btw kenapa dikasih nama itu ya?, aku baru ngeh, kalo judulnya aneh hehe. Situ manggut-manggut udah pada tau kan?, atau masih absurd?..Kayaknya perlu saya sebutin brand-nya aja nih. Nama majalahnya : B O B O. Naaahh pada cling kan sekarang. Sepaham deh,* jadi gak perlu muter2 ngomongnya kaleee*. (gak dapet fee soale meski nge-promo-in, hahaha mata duitan).

Menurut pengalaman saya sewaktu kecil dulu, majalah yang satu itu sangat menarik. Masih ingat kisah si Oki dan Nirmala, Pak Janggut, ato Bibi Titi Teliti?.. Itu sangat berkesan banget buat saya. Bibi Titi Teliti dengan sikap rapih dan bersihnya, wesss, kalah jauh deh ama saya. Kisah Oki dan Nirmala yang selalu saya tunggu petualangan barunya setiap minggu. Melalui majalah tersebut, saya bisa dapet banyak hal.

Satu, daya imajinasi saya meningkat ( itu menurut saya lho :)). Setiap ide cerita membaya saya ke alam petualangan yang dihadirkan di setiap edisi majalah.

Dua, majalah tersebut menjadi sumber informasi baru bagi saya tentang teknologi yang berkembang saat itu.

Tiga, Membuat saya memiliki kecepatan membaca yang lebih baik. Satu edisi majalah BOBO, dapat saya selesaikan membacanya dalam waktu 1-2 jam. Setelah itu, nagih baca lagi. hehe.

Empat, majalah BOBO jadi teman saya dalam berprakarya, karena ada rubrik tentang membuat prakarya sendiri, yang belum tentu saya dapat dari sekolah. Pernah dulu, ide prakarya naik kelas diambil dari majalah ini. Tak apalah ya, nyontek dikit, hehe.

Lima, majalah BOBO sedikit banyak mempengaruhi saya untuk meninggalkan kampung halaman alias merantau. Niatan ini karena di tempat saya dulu masih sedikit yang menjual buku-buku yang sesuai dengan selera anak-anak. Haus baca intinya mah 🙂

Majalah BOBO dengan taglinenya, “Teman Bermain dan Belajar”, benar-benar mempengaruhi dunia masa kecil saya. Ia mengenalkan ruang pengetahuan yang belum pernah saya jamah, mengajarkan nilai-nilai moral yang disampaikan dengan bahasa yang ringan dan mudah dicerna, meningkatkan daya kreatif dan imaji secara sederhana, dan memberi warna tentang indahnya memiliki dan memperjuangkan  impian dalam hidup.

Jika dibandingkan dengan era digital saat ini, posisi buku di dunia anak mungkin berada di urutan ke 8 dari 10. Miris memang. Masih tersisa sekitar 20 % anak-anak yang mencintai buku dan menyukai membaca. Sedangkan selebihnya pegang buku dikarenakan ada PR sekolah atau ketika Ibu/Bapak guru meminta membacanya di ruang kelas.

Era digital telah menghantarkan anak-anak masuk kedunia yang menurut hemat saya tidak sepantasnya mereka selami lebih dulu. Anak-anak Indonesia butuh sosok figur yang menjadi sumber inspiratif bagi mereka. Mungkin terlalu muluk tokoh atau sosok inspiratif, sosok yang menjadi panutan. Seorang dengan tokoh sosok yang dapat diakses secara digital oleh mereka. Menggantikan berbagai macam games yang sudah terlanjur dicintai dan tidak dapat ditinggalkan seperti Angry Bird, Pou, atau apalah semacamnya. Saya tidak menyalahkan games itu beredar,Tidak!. Namun sangat menyayangkan, dunia anak tersedot dengan permainan yang menyita sebagian besar waktu mereka. Buku dengan tokoh lima sekawan seperti cerita Enid Blyton, yang ditampilkan dengan versi digital dapat menarik visual dan audio mereka untuk enjoy moment membaca dan mengikuti ceritanya.

Kita mungkin tidak bisa berharap banyak bahwa buku versi lembaran kertas akan menjadi teman yang asyik untuk  anak-anak sekarang. Tetapi kita bisa menciptakan atau membuat buku dengan sentuhan teknologi yang  membuat anak-anak merasa terajak dan terhipnotis untuk tau dan mengikuti ceritanya lebih lanjut.

Selain itu posisi buku juga tidak bisa dihilangkan dari dunia anak. Buku anak-anak dapat menjadi media berbagi untuk sesama anak-anak. Tidak semua anak dapat merasakan nikmatnya membaca buku. Berbagi dalam bentuk buku menjadi salah satu bentuk berbagi inspirasi dalam dunia anak.

Pemunculan situs-situs cerita-cerita anak seperti BOBO online menjadi salah satu terobosan yang dapat diacungi jempol. Orangtua menurut saya punya andil besar dalam mengajak, memperkenalkan situs-situs baik seperti ini. Anak belom tentu tertarik melihatnya jika ia tidak tau apa yang menarik dari situs tersebut. Disinilah peran orangtua untuk mendampingi dan mengenalkan bahwa anak-anak dapat bermain dan belajar di situs tersebut.

Kita bersama-sama berharap bahwa perkembangan buku digital anak-anak di Indonesia akan lebih baik dari hari ini.

pameran buku bandung

Advertisements

10 thoughts on “Inovasi Buku Versi Digital Untuk Anak Indonesia

  1. wah, ceuceu kalo udah buka bobo online gak bisa diganggu lagi. laptop jadi milik ceuceu sepenuhnya… tapi tetap aja penasaran minta dibeliin yang cetaknya… haha

  2. Waahh…sama dong, suka Bobo. Majalah yang bikin imaginasi kita berkembang. Tokoh2nya sangat membekas di hati seperti Paman Kikuk,Paman Gembul dll. Duh! jadi kangen Bobo yang duluuu yang tak banyak iklan…:)

Comments are closed.