Writing Contest

Berdamai dengan Tsunami Yang Menyesakkan Hati

Tuhan, marahkah kau padaku
Iniah akhir duniaku
Kau hempaskan jarimu di ujung Banda
Tercenganglah seluruh dunia

tsunami oke aceh

Lirik lagu diatas masih sangat akrab di telinga kita. Nada menyentuh dan berpadu dengan suara Sherina yang melirih mengingatkan kita pada duka yang terjadi 10 tahun yang lalu.

Tsunami sudah memporak-porandakan Aceh. Ia hanya menyisakan sebagian tanah dan  sebagian jiwa.
Ia merenggut tak sedikit nyawa,
Dan juga tak luput orangtua dari balita-balita,
Peristiwamu diabadikan dalam sebuah film haru, Hafalan Sholat Delisha,
Meski mungkin tak cukup mewakili luka yang masih menganga
Pesan Tuhan sudah sampai ke alam bahkan merasuk jiwa
Mari satukan tangan menggengam asa
Meraih cita

Esensi Bencana

Tuhan, mungkin Kau kuabaikan
Tak kudengarkan peringatan
Kusakiti Engkau sampai perut bumi
Maafkan kami ya Rabbi

 

Mosque
Bencana punya tiga mata pisau. Bencana bisa berupa sebuah azab, ujian atau sebuah peringatan.  Bentuk “sentilan” dari Sang Maha. Dalam kitab suci, Tuhan sudah menunjukkan kebesaranNYA :

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, Maka diantara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.
(Q.s. Al-Ankabut:40).

Tuhan juga memberikan cinta dalam bentuk cobaan.
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang–orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan : “Inna Lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (Q.s. al-Baqarah: 155-156).

“Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; diantaranya ada orang-orang saleh dan diantaranya ada yang tidak demikian. dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)”. (Q.s. al-A’raf: 168). Ayat tersebut sebagai sebuah peringatan untuk manusia.

Tsunami di Aceh mungkin saja, menjadi sebuah azab, ujian, atau sebuah peringatan untuk saudara-saudara kita disana. Tsunami Aceh juga harusnya menjadi ‘sentilan halus’ untuk kita semua, warga Indonesia. Bukankah luka di hati saudara kita yang lain, menjadi penderitaan bagi kita juga?.

Tak ada penghakiman dari dalam hati, kenapa Tuhan begitu kejam. Kenapa Tuhan memberikan musibah begitu besar di kota Serambi itu. Kenapa Tuhan merenggut nyawa ibu dan bapak dari seorang bayi kecil. Semoga tak ada umpatan bagi Tuhan yang kita kenal sangat Pengasih dan Penyayang. Pasti Tuhan tak salah rencana. Pasti IA tak salah menumpahkan air yang sangat marah di ujung banda. Pasti Tuhan akan menggantikan sesuatu yang telah diambilNYA. Semua berujung untuk kehidupan yang lebih baik ke depannya. Mungkin selama ini kita abai padaNYA. Tuhan ingin kita lebih dekat denganNYA.

Damai Terhadap Bencana

Bencana sejatinya dekat dengan kita, Ia bisa datang kapan saja, dimana saja. Tanpa salam, tanpa tedeng aling-aling. Terhentak. Diri terhempas. Merasakan luka di badan menjadi alarm bahwa masih ada nyawa. Jatah umur belum menemui ujung.

Pertanyaannya, Siapkah diri berdamai dengan bencana?.

Mungkin, tak ada istilah siap dalam menghadapi bencana, selalu ada unsur kegamangan jiwa dalam menghadapi sebuah bencana. Kegamangan dalam menghadapi kala bencana terjadi dan juga kegamangan untuk menghadapi hari esok diatas segala kekurangan harta dan jiwa dan kepergian keluarga yang disayangi. Meski tak seutuhnya berbanding lurus, kegamangan bisa berkurang kadarnya jika kita memiliki ilmu dalam menghadapi sesuatu.

Di era informasi saat ini, kita patut untuk mengetahui apa-apa yang harus dipersiapkan untuk menghadapi bencana. Pembekalan diri dengan ilmu-ilmu menghadapi bencana mulai dari pra, saat, dan pasca bencana wajib diketahui, khususnya warga yang dekat dengan daerah rawan bencana. Ketiga upaya tersebut dikenal dengan istilah mitigasi bencana, yaitu upaya pencegahan, pertolongan dan pembangunan pasca bencana. Mitigasi ini penting dalam upaya pengurangan resiko bencana. Bentuk damai terhadap bencana dapat diwujudkan dalam sikap sadar bencana. Sebuah sikap awas dan mawas diri pada sebuah potensi bencana hingga bencana itu terjadi dan berlanjut pasca terjadinya bencana.

Damai Pra-Bencana

Berupaya untuk menguasai ilmu-ilmu tentang berbagai macam bencana secara teoritis dan mempraktekkan gaya hidup yang pro lingkungan hidup merupakan bentuk upaya berdamai pra-bencana.

Tsunami di Aceh, bukanlah yang pertama kali terjadi. Pada tahun 1907, Aceh pernah mengalami bencana tsunami di Kepulauan Simeulue, Aceh. Bencana alam tsunami Aceh 2004 disebabkan oleh gempa bumi bawah laut yang berkuatan 9,15 Mw di kedalaman 30 km di bawah laut. Tsunami Aceh 4 Januari 1907 juga disebabkan oleh gempa bumi bawah namun kekuatan gempanya sekitar 7,6 Mw pada kedalaman 20 Km (Hiro Kanamori, dkk, 2010). Hampir 97 tahun yang lalu, bencana serupa pernah terjadi di Aceh. Tsunami yang terjadi pada tahun 1907 tidak dijadikan pembelajaran dengan baik, terputusnya rantai informasi ini tidak menjadikan generasi lanjutnya untuk siaga. See, kita alpa belajar pada alam.

Bekalan ilmu yang diberikan harus disesuaikan dengan kebutuhan kondisi wilayah masing-masing. Wilayah yang dekat dengan rawan bencana air  seperti Aceh, diberi bekalan ilmu cara menghadapi bencana jika air pasang, atau jika tsunami datang. Jika terletak di wilayah pegunungan, masyarakat dibekali dengan ilmu cara menghadapi jika terjadi longsor, gunung meletus, ataupun gempa bumi.

#Agar Tidak Kecolongan (Lagi)

Pusat Studi Tsunami dan Mitigasi Bencana (TDMRC-Tsunami and Disaster Mitigation Research Center) menjadi salah satu bentuk upaya untuk berdamai dengan bencana. Tsunami yang telah meluluhantakkan Aceh dijadikan media  pembelajaran bagi masyarakat Aceh untuk lebih siap jika peristiwa tersebut terulang. Pusat riset ini dibentuk oleh inisiatif para akademisi Universitas Syiah Kuala yang dibentuk sejak Oktober 2006. Keberadaan TDMRC bertujuan untuk meningkatkan sumber daya riset kebencanaan yang berkualitas, memberikan advokasi pada pemerintah dalam membuat kebijakan, mengumpulkan dan menyediakan data terbaik dengan mempercepat proses pengumpulan data yang tepat berkaitan dengan dampak dari bencana. Tidak hanya itu, TDMRC juga turut serta berkontribusi untuk meningkatkan masyarakat yang tahan bencana.

TDMRC menjadi bentuk nyata sikap siap untuk menghadapi sebuah bencana. TDMRC juga perlu dibentuk di daerah-daerah lain yang   memiliki potensi bahaya air yang sama seperti Aceh. Letak Indonesia yang dekat dengan perairan menjadikan lembaga riset seperti ini penting untuk dibentuk.

Pada tingkat masyarakat bawah dapat membentuk Kelompok Siaga Bencana. Kelompok ini  dapat menjadi salah satu bentuk damai sebelum bencana terjadi. Kelompok ini dapat dibentuk dengan kerjasama dengan pemerintah setempat, misalnya Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Kelompok ini dapat beranggotakan pemuda setempat dan dapat dipimpin langsung oleh pemerintah desa setempat. Kelompok Siaga Bencana ini diharapkan bisa meminimalisir kerugian dan jumlah korban yang mungkin timbul akibat sebuah bencana.

#Pemantauan Gelombang Tsunami

bouyBuoy adalah alat untuk mengamati perubahan gelombang laut atau tsunami yang diampungkan ditengah laut untuk mengamati tinggi rendahnya permukaan air laut. Penempatan Buoy di daerah perairan Indonesia penting sebagai warning sebelum terjadi bencana. Selain Buoy juga dapat dipasang sirine tsunami sebagai media penyampai informasi terjadi tsunami.

Peringatan seperti untuk tidak berada di pantai, jika merasakan gempa kurang dari  20 detik atau lebih perlu diperhatikan. Segera tinggalkan pantai dan melakukan gerak cepat untuk mengungsi.  Hidup dan tinggal di daerah yang dekat dengan pantai tidak lagi menjadi pilihan untuk keluarga.

Selain alat tersebut, di zaman teknologi ini juga tersedia aplikasi smartphone berbasis android untuk pengenalan bencana dan pengurangan resiko bencana. Misalnya : Geospasial BNPB, info gempa dan cuaca oleh BMKG, GPS Tracking Pro, dan Earthquake Alert. Silahkan install di hp masing2 ya :).

Damai Saat Bencana

Damai saat bencana dapat berbentuk upaya untuk menguasai pengetahuan dasar cara-cara menghindar, mengurangi resiko bencana dan upaya saling tolong menolong. Mendengar dan mengikuti arahan pemerintah setempat yang akan menginformasikan mengenai rute dan tempat pengungsian. Selebihnya adalah pemasrahan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Damai Pasca Bencana

Damai pasca bencana adalah pembelajaran tentang masalah lanjutan yang terjadi akibat bencana. Penyembuhan psikologis demi pemulihan stres dan trauma penting untuk kesiapan menghadapi hari depan pasca bencana. Khususnya anak-anak, penyembuhan ini butuh usaha maksimal, mengingat logika penerimaan terhadap bencana belum mampu mengerti dengan utuh. Pemulihan tidak hanya berurusan dengan kondisi psikologi, namun juga pemulihan kondisi papan, dan sandang.

Ketrampilan siaga paska terjadi bencana sangat penting  seperti  pendirian tenda darurat, dapur darurat, dan mawas jika terjadi bencana yang berulang.

Akan selalu ada masa jeda, waktu sementara, untuk memulihkan kembali suasana hati, pola fikiran. Secara perlahan, sedikit demi sedikit. Bencana selalu menyisakan hikmah diakhirnya. Bahwa bencana adalah suatu takdir kehidupan. Tidak bisa dihindari. Pasti terjadi. Meski selalu tidak mudah menemukan hal yang baik dari suatu bencana.

Kesiapan diri juga ilmu yang mumpuni, menjadi bekal setiap individu saat bencana. Sehingga jika suatu hari nanti terjadi bencana lagi, masyarakat Indonesia tidak gelagapan lagi, tanpa tahu apa yang harus diperbuat .

Engkau yang perkasa
Pemilik Semesta
Biarkanlah kami songsong matahari

Engkau yang Pengasih
Ampunilah dosa
Memang semua ini
Kesalahan kami

Dekat dengan Tuhan, Dekat dengan Alam, Semoga jadi solusi damai untuk Tsunami yang menyesakkan hati.

banner-lomba-aceh

 

Referensi :
Alqur’an
http://anditaufantiro.com
http://www.tdmrc.org
http://www.ibnurusydy.com/pemantauan-gelombang-tsunami/

tsunami

7 Aplikasi Android Dalam Bidang Kebencanaan

http://www.ibnurusydy.com/bencana-alam-tsunami-aceh-2004-vs-tsunami-aceh-1907/

Sumber gambar :
www.satunews.com
www.coolgeography.co.uk

 

Advertisements