Gadis Petualang

Gadis Petualang (2)

“One’s destination is never a place, but a new way of seeing things” Henry Miller

cianjur1
Kalimat bijak itu, yang mungkin sedang IA ajarkan untukku. Cerita Gadis Petualang di postingan sebelumnya, mengizinkan jejak saya membumi di tanah sebuah desa di Kota Cianjur, Maleber namanya.

Saya tinggal bersama seorang perempuan yang sudah lebih dari setengah abad usianya, namun ia sangat aktif dalam keseharian. Beliau memulai hari dengan sholat malam pukul 3 pagi, kemudian melanjutkannya dengan membaca surat yasin yang ditujukan untuk suami tercinta yang sudah lebih dahulu menghadapNYA. Dan itu rutin dikerjakan beliau. ” Kasian Bapak kalo gak dikirimin hadiah Neng, insy selagi ibu sehat, ibu selalu kirim doa”, begitu ujarnya ketika ia kutanyakan tentang hal tersebut. Hingga subuh menjelang, ibu sudah membuka warung sembako, yang juga jadi jalan rezeki untuk kehidupan sehari-hari. Dan warung tersebut, kalo dilihat dari luar sepi isinya, tetapi omsetnya 500 ribu hingga satu juta setiap harinya. Warung yang berkah, insy.

Aktifitas warga disini, sudah dimulai sejak subuh. Hal ini yang membuat saya takjub, tidak ada istilah untuk tidur setelah sholat shubuh seperti yang sering saya lakukan, malu euy. Pukul 6 pagi saja, bubur ayam keliling sudah habis dari peredaran. Warung yang jual gorengan juga pasti tinggal sisa.  Jangan ngarep dapat sarapan dari modal beli kalo sudah diatas pukul 6. Kondisi ini kami alami, saat hari pertama disana, kami sudah keabisan warung untuk beli sarapan. Sampe liat jam berkali-kali, “kan ini baru jam 6”, kalimat yang keluar dari mulut kami, tidak percaya kalo sarapan sudah dilalap habis warga setempat. Oke fine, #pelajaran hari pertama, beli sarapan harus pagi2 banget, kalo  takut keabisan, trus abis tuh bisa tidur lagi, Upss 😉

Setelah sibuk dengan warungnya hingga zuhur menjelang, Ibu melanjutkan aktiifitas akhirat. Apa itu?.. Menjadi pengajar di sekolah mengaji yang dibuka di depan teras rumahnya. Mengajar bersama dengan bantuan putri dan ibu-ibu setempat. Subhanalloohh, di usia segitu, si Ibu masih meng-aktualisasikan diri. Malu sayah.. “Biar seimbang neng, dunia dapat, akhirat juga dong” kata ibu. Yang lebih dahsyatnya lagi, Kelas ini dibuka dua sesi kawans. Seabis sholat zuhur untuk anak-anak yang duduk di kelas 1 dan 2 SD. Sedangkan sesi seabis sholat magrib, khusus untuk anak-anak  yang sudah lebih gede, tak memandang duduk di kelas berapa, digabung jadi satu kelas. Wiihhh, di mata saya, ibu ini dahsyat banget kawans.

cianjur2
Ibu bersama anak-anak kelas sesi pagi

Cerita yang lebih dahsyat lagi ketika Ibu memuliakan tamu. Sindiran Allooh banyak banget ke saya selama tinggal disana. Mau tau, versi Ibu memuliakan tamu?. Tunggu di postingan selanjutnya ya kawans, insy. semoga bisa berbagi.

Nite All, semoga tidurnya jadi ibadah, aamiin ^_^

 

Advertisements

4 thoughts on “Gadis Petualang (2)

  1. Tinggal bersama sebuah perempuan tua, yang kupanggil dengan sebutan ibu. Sudah lebih dari seperempat abad umurnya. Tapi beliau sangat aktif dalam keseharian. —-> kalimat ini terasa janggal

    1. saya juga merasakan kejanggalan itu saat membacanya. Belum diedit ya, Mba? 😀

      Salut dengan sang ibu, yang berusaha menyeimbangkan persiapan dunia dan akhiratnya. Fenomena yang sudah sangat jarang kita temukan di masa kini ya? Btw, ditunggu postingan lanjutannya ya.., inspiratif dan penuh pembelajaran. TFS!

Comments are closed.