Gadis Petualang

Gadis Petualang (1)

“Ambil tasmu dan berjalanlah ke tempat-tempat baru, bertemu dengan orang baru, maka kamu akan dapat banyak pelajaran” Tere Liye

Alkisah dahulu kala, ada seorang gadis yang suka bertualang. Ia suka mencari cara untuk bisa jalan-jalan ke tempat yang baru, menemukan pengalaman baru, masuk ke dalam potongan kehidupan orang lain, memperlebar puzzle kehidupannya. Cerita perjalanan hidupnya sebenarnya sudah lama dimulai, namun yang dituliskan hanya dalam sekuel-sekuel yang dianggap berkesan dan dianggap menjadikan hati lebih bernyawa.

Seperti kata Tere Liye, dan saya meyakini bahwa perkataan abang Tere Liye tersebut, benar adanya. Dulu, entah kenapa, pengaruh modernisasi atau globalisasi, saya lebih berasa kalo travelling itu lebih okkeh, lebih modern, lebih dahsyat  kalo sampe ke luar negeri. Bukan berarti travelling ke luar negeri gak boleh lho. Saya hanya menelan kata-kata saya yang dulu, tidak benar adanya. Travelling  hanya OKKEH jika keluar negri, itu kata-kata saya dahulu. Sekarang saya memahami bahwa, bukan perjalanan KEMANA-nya yang penting, tetapi APA yang kau dapat dari perjalanan tersebut. Kita bukan bicara tentang TEMPAT tapi kita belajar untuk bisa mengambil HIKMAH dari perjalanan tersebut. ITU! (versi Mario Teguh) hehehe.

Saya, bukan seorang traveller sejati. Bepergian selama hampir satu setengah bulan lamanya ternyata membuatku kangen kangen bahkan kangen berat pada suasana rumah sendiri. Berkumpul bersama, nonton ato makan bareng, ketawa Haha hihi bersama, dan sebagai tambahan bisa untuk pundung sejenak, hahha (ini mah saya banget ya). Menjadi seorang traveller juga berarti menghilangkan kata cengeng dari kamus diri. Buang jauh-jauh please. Kamu gak pengen dong, temen kamu juga ikutan susah gara-gara kamu milah milih klo mau makan. Oohh. plisss NOO. Terus yang kedua, kamu gak pengen dong, kamu jadi orang yang terus untuk dibantu ini itu dalam setiap hal, sehingga memperlambat suatu pekerjaan selesai. Jauuuh jauuh ya. Truuuss yang gak boleh banget, klo kamu tiba2 tidak ingat atau lupa sama kesepakatan tim dan kamu jadi perusak hasil kerja tim. Jangan ya, sodara sodari :).

***

Cerita perjalanan ini dimulai ketika saya diajak untuk ikut sebuah riset kesehatan. Riset ini merupakan program survey langsung dari Kementrian Kesehatan. Riset ini diadakan secara nasional, saya serta ratusan teman-teman yang lain mewakili Propinsi Jawa Barat. Setelah menyelesaikan 10 hari masa pelatihan di Bandung, kami menyebar ke seluruh pelosok negeri di kawasan Jawa Barat. Saya bersama tim, ditugaskan untuk turun lapang ke daerah Cianjur, ke Desa Maleber tepatnya. Dalam hati, masih dag dig dug akan bagaimana perjalanan ini dimulai.

Berkumpul terlebih dahulu di Dinas Kesehatan Cianjur untuk  minta izin kepada yang empunya tempat, basa basi yang gak basi atao sudah agak basi itu tetap penting kawans. Kalo mau masuk rumah orang, minta izin dulu kan kita. Naahh, kurang lebih seperti itu deh. Setelah dua kali berganti angkutan umum dari Dinkes, kami tiba di Kantor Kepala Desa Maleber. Disambut baik dengan Kepala Desa yang masih sangat muda dan beberapa staf desa disana. Setelah beberapa saat membuat bingung staf desa mengenai tempat tinggal yang akan kami tempati, kami dipercayakan untuk tinggal di sebuah rumah yang cukup besar. Rumah tersebut adalah rumah dari ibu  salah satu staf desa. Rumah tersebut katanya umum dijadikan tempat tinggal mahasiswa KKP atau KKN. Diterima sangat baik disana oleh ibu dan keluarga besar  yang sengaja datang untuk menyambut kedatangan kami. Suasana hangat saat itu cukup membuat kami kikuk. Alhamdulilllaaahh, semoga ini merupakan gambaran hangat untuk hari-hari selanjutnya.

Disinilah perjalanan itu dimulai, di rumah seorang wanita tua yang hanya tinggal dengan seorang cucu perempuan. Hingga terjadi sebuah peristiwa yang kurang mengenakkan. Apakah itu? Maw tahu dong, cerita selanjutnya :). ketemu di postingan besok ya :), insy.

cianjur 1

 

Advertisements