Food, Nutrition, and Health · Writing Contest

Diari Derita Zombigaret

Hallo guys, entah kenapa malem ini saya mau cerita ama sobat-sobat semua. Entah kenapa juga, saya jadi mellow abis, mellow tingkat tinggi diantara hembusan nafas yang sudah terpatah-patah begini. Mungkin saja bawaan ingat mati atau ingat dosa yang sudah numpuk. Saya harap sobat semua bakal baca cerita ini sampe akhir atau dengerin cerita ini semisal sobat lagi dikasih ilham lewat cerita dari keluarga atau temen-temen yang masih ‘sadar’. Kita memang bukan bersaudara, terlebih keluarga, bukan kedua-duanya. Tapi saya harap cerita ini bisa diambil hikmahnya dan semoga manfaat buat kehidupan sobat semua. Umur gak ada yang taw kan brosis, kali-kali aja cerita ini jadi tambahan amal buat saya. Semoga ya.

Hampir setengah abad hidup saya dianugerahkan Tuhan, dikasih tempat hidup yang nyaman, dan keluarga yang tulus mendampingi. Sepertiga dari umur saya itulah masa ketika saya belum berkenalan dengan benda yang tidak lebih hanya satu jengkal ini. Namun selebihnya, benda ini mendapat perhatian besar dalam setiap waktu. Ketika bekerja, terasa sangat berpengaruh dalam melahirkan ide-ide brillian untuk hasil desain saya. Bekerja sebagai seorang desainer, harus punya ide kreatif yang tidak biasa bukan?. Merokok sangat membantu, ketika ide terhenti, nyalakan saja rokoknya, hisap dalam-dalam, seketika ide cemerlang pun hinggap. Seperti me-nuhankan rokok. Tanpa rokok tidak lahir ide kreatif. Begitu lama saya terjebak dengan ritme kerja yang memang mengharuskan saya menjadi penikmat rokok. Benda tersebut menyedot secara halus sebagian gaji saya. Sebuah konsekuensi yang saya anggap wajar dengan lahirnya desain kreatif dari sumbangan ‘semangat‘ dari sebatang rokok. Bukan waktu yang singkat menghabiskan malam-malam dan beberapa batang rokok ketika penyelesaian projek di kantor. Rokok menjadi sahabat yang setia menemani.

Hingga suatu hari, vonis dokter menghentak kehidupan saya. Vonis yang menyita seluruh pikiran sadar saya dan juga keluarga, bahwa saya mengidap kanker tenggorokan. Mendengar kata kanker saja, saya sudah tidak kuat. Apalagi yang ini ditambah ‘bonus’ di belakangnya ‘kanker tenggorokan’. Sakit yang yang akhirnya menyita seluruh keceriaan dan kedamaian yang selayaknya saya nikmati saat masa yang tak muda ini.

kanker tenggorokan

Saat ini, kemanapun saya pergi atau berada, saya selalu memakai syal. Sebuah kain yang berukuran tidak terlalu panjang yang dikenakan di leher. Syal ini akan terlihat kembang kempis ketika saya berbicara. Syal ini berfungsi untuk menutup lubang sebesar jempol yang menganga di leher saya. Lubang ini merupakan pengganti dari hidung saya yang sudah tidak berfungsi lagi. Lubang ini menjadi jalan nafas bagi saya. Saya bernafas lewat leher.

Suara saya juga tidak terdengar merdu seperti dulu. Ajakan ber-karaoke sudah tidak menjadi sebuah hiburan yang asyik bagi saya, namun sebaliknya. Suara saya terdengar bergetar, jangankan bernyanyi bisa menyelesaikan tulisan ini saja tanpa ada typo dengan nafas terpatah-patah merupakan keajaiban luar bisa buat saya. Entahlah saya masih bisa memiliki kekhawatiran atau pasrah saja jika suatu hari, saya harus mengikhlaskan kehilangan pita suara saya. Meski sebagai manusia ,berharap penuh hal itu tak akan terjadi.

Pernyataan saya bahwa rokok menjadi teman yang setia atau bahkan sangat setia dari manusia yang mengaku alim di muka bumi ini menjadi sangat benar. Ia tak pernah jauh, selalu ada menemani hari-hari saya, sepanjang waktu saya. Saya memang tidak menghisapnya lagi, namun ia yang justru menghisap seluruh kedamaian hidup saya, menyedot ketentraman keuangan saya dan keluarga dan menyita cerita indah hidup saya. Saya kini ditemani dengan sebuah penyakit yang bertengger akrab nan kuat di leher saya. Saya memang masih diberi jatah nafas, namun kini saya terengah-engah menghirup nafas. Saya sudah menjadi zombie yang tak perlu dikasihani. Namun, terimalah persembahan ini, sekedar berbagi agar Anda tidak turut menjadi zombie.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis “Diary sang Zombigaret”

Advertisements

4 thoughts on “Diari Derita Zombigaret

Comments are closed.