Writing Contest

OTAK LEBIH BERHARGA DIBANDING OTOT

Berkenaan dengan tema “Dari Keunggulan Sumber Daya Alam menuju Keunggulan Sumber Daya Manusia” yang terkandung dalam pesan artikel berjudul Pendidikan Tidak Berkualitas, Akar Problema Buruh [1]di www. darwinsaleh.com, saya berpandangan bahwa saya setuju karena rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia menjadi akar dari intensnya demo buruh yang tidak lupa diperingati setiap tahunnya dengan marak dan ramai oleh buruh-buruh di Indonesia. Tingkat pendidikan buruh yang rata-rata tamat SMP dan SMA menjadi akar dari nilai pendapatan  rendah yang diperoleh. Menghabiskan waktu selama 7-10 jam yang terkadang ditambah waktu lembur seperti konten yang terdapat pada buku Potret Dhuafa Perekonomian Indonesia[2] bukanlah  waktu sebentar untuk dihabiskan bekerja setiap harinya. Jika dibandingkan dengan pendapatan yang dimiliki oleh para pekerja professional dengan waktu kerja 8 jam, akan terlihat perbedaan nilai pendapatan yang signifikan antara keduanya.

Hari Buruh
Demo di Hari Buruh

Selain dari sisi pendapatan, ada beberapa hal yang mempengaruhi ketidak puasan buruh kita sehingga memuncak panas pada Hari Perayaan Buruh Dunia yang diperingati tanggal 1 Mei. Berawal dari jam kerja yang disita oleh perusahaan atau tempat bekerja mempengaruhi pada kualitas pertemuan dengan keluarga dan efek psikologis. Dengan waktu selama 8-10  jam bekerja dengan menggunakan otot di perusahaan berakibat terkurasnya tenaga para pekerja seharian. Terlebih lagi, jika buruh tersebut bekerja dengan siklus 3 shift.  Sesampai di rumah, sepulang kerja, buruh butuh waktu lebih lama untuk proses ‘healing’ tenaga untuk bisa fit kembali melalui tambahan waktu istirahat/tidur. Hal ini menyebabkan kualitas pertemuan dengan keluarga bisa hanya sebatas tatap muka sebelum tidur dan tak terasa pagi sudah datang menjelang. Alur tersebut, terjadi setiap harinya dengan siklus yang cukup membuat tubuh butuh tenaga ekstra untuk beradaptasi. Kondisi ini menurut saya lebih parah, jika buruh bekerja shift pagi buta, umumnya pukul tiga pagi, sungguh perjuangan luar biasa diluar kebiasaan orang banyak demi penghasilan yang juga lebih sering tidak setara.

Kondisi kerja yang padat karya dapat juga mempengaruhi efek psikologis dari tiap buruh. Kondisi fisik yang lelah akan mempengaruhi tingkat emosi menjadi lebih sensitif, lebih mudah marah, dan tingkat parahnya bisa membuat emosi menjadi tidak stabil. Emosi yang di “keep” tiap hari selama bekerja, bercampur dengan tuntutan hidup dan tuntutan keluarga yang semakin beragam menjadikan tanggal 1 Mei merupakan hari penting dan bersejarah bagi para buruh untuk menunjukkan dan menumpahkan kekesalan yang telah mereka timbun sepanjang satu tahun.

Rendahnya upah yang diterima sebanding dengan nilai produktifitas yang dihasilkan. Produktifitas menjadi poin penting bagi perusahaan dalam menentukan upah seorang buruh.  Jika seorang buruh dinilai dengan produktifitas rendah maka perusahaan juga memberikan apresiasi yang rendah terhadap buruh tersebut. Make sense, bukan?.

Menurut data BPS (2013), jumlah buruh di Indonesia mencapai 41,56 juta orang. Jumlah yang fantastis.  Jumlah tersebut hampir mendekati  seperlima dari jumlah penduduk Indonesia.  Secara riil, rata-rata upah buruh seluruh industri per bulan di Indonesia sebesar Rp. 1.184.500,00[3]. Nilai pendapatan yang sedikit jika dibandingkan dengan waktu yang telah dikorbankan yang tidak sedikit selama bekerja. Nilai upah tersebutlah yang diminta untuk mengalami kenaikan yang dijadikan bahan utama untuk demo setiap tahunnya. Tampak wajar memang, jika buruh melakukan demo jika ditinjau dari hal ini. Dan lagi, industri tidak melihat dari jumlah lamanya waktu yang telah dikuras untuk perusahaan, tapi hanya melihat nilai produktifitas yang dihasilkan oleh buruh selama bekerja. Begitu kenyataannya.

Buruh Meminta Kenaikan Upah
Buruh Meminta Kenaikan Upah

Kejadian rutin saat demo buruh tahunan mengusung tema yang sama, yaitu kenaikan upah kerja. Misalnya saja, buruh Jakarta meminta kenaikan Upah Minimum propinsi (UMP) yang awalnya 2,4 juta rupiah menjadi 3,7 juta rupiah. Nilai yang cukup fantastis untuk upah buruh. Dengan tingkatan pendidikan yang maksimal SMA menuntut kenaikan upah setara dengan pekerja dengan tingkat pendidikan lulusan sarjana atau bisa lebih tinggi lagi. Permintaan yang menggunakan akal sehat sederhana tanpa perhitungan ekonomi atau nilai produktifitas pun susah untuk mengabulkannya. Ibarat meminta tentang sesuatu hal yang tak mungkin untuk dikabulkan.

Di wilayah lain, di Tangerang, buruh meminta untuk merevisi upah minimum dan membedakan nilai upah berdasarkan wilayah kerja, antara kota dan kabupaten. Buruh menginginkan upah minimum di Kota Tangerang sebesar Rp. 2.605.000 dan Rp. 2.602.000 untuk Kabupaten Tangerang. Tuntutan yang diturunkan sendiri secara sepihak oleh buruh dari tawaran pertama sebesar Rp. 3,6 juta menjadi Rp. 3,1 juta dan akhirnya menjadi Rp. 2,6 juta[4].

Menurut Anton J.Supit sebagai Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia, UMP beda dengan upah biasa, UMP merupakan upah minimum, jadi ketika kontrak kerja sudah ditandatangani, artinya  buruh siap bekerja lahir batin sesuai dengan nilai upah yang ditawarkan, layaknya buruh tidak menuntut lagi. Terlebih lagi pada buruh yang minimum pendidikan dan pengalaman kerja[5]. Jika kita bandingkan dengan nilai gaji yang diperoleh pekerja dengan tingkatan pendidikan sarjana, terkadang tidak mencapai nilai nominal yang fantastis tersebut, hanya tembus maksimal di nilai  2-3 juta rupiah. Dengan biaya sekolah yang tidak sedikit dan memerlukan kurun waktu paling cepat 3,5 tahun untuk memperoleh gelar sarjana dan selembar kertas yang disebut ijazah, mereka dihargai perusahaan dengan nilai nominal kurang dari 5 juta. Terlebih pada lulusan sarjana yang mengadu nasib memperoleh keberuntungan untuk lulus sebagai salah satu pengabdi negeri, menjadi PNS. Sudah merupakan rahasia umum bahwa penghasilan PNS pada tahun pertama hanya mendekati nilai 2 juta rupiah. Cukup terlihat perbedaan nilai pendapatannya bukan?. Bukannya tidak menaruh hormat pada pahlawan industri di negeri ini, tapi terkadang permintaan buruh untuk kenaikan pendapatan dirasa dan difikir  lebih tidak masuk akal.

Sebagai individu-individu yang memiliki jiwa-jiwa untuk kenaikan harkat dan martabat negeri, setiap kita memiliki peran dalam pergerakan roda perekonomian bangsa.  Bagi Anda sebagai buruh, sebagai pekerja kantoran, PNS punya peran masing-masing yang bisa saling bahu membahu untuk membangun kejayaan negeri. Dengan pergerakan ekonomi industri yang dominan dimainkan oleh buruh  akan berdampak pula pada penguatan dalam ekonomi kita[6]. Diantara peliknya masalah yang dialami buruh karena rendahnya nilai gaji yang dibayar oleh perusahaan, ada beberapa hal yang bisa kita perjuangkan bersama-sama demi buruh di Indonesia.

images

  1. Pembekalan pendidikan kewirausahaan di sekolah

Adanya tambahan bekal pendidikan mengenai kewirausahaan di sekolah dapat menjadi bekal hidup penuh manfaat bagi buruh. Pembekalan pendidikan ini dapat disempurnakan dengan pendampingan oleh suatu badan/lembaga hingga usaha yang dipilih dan dijalani bisa mandiri. Dengan bekal kewirausahaan, buruh tidak lagi mengandalkan pekerjaan utamanya dalam perolehan penghasilan. Tambahan pendapatan melalui jalan kewirausahaan  menjadi penambal pendapatan yang timpang dalam urusan ekonomi buruh dalam keluarganya. Sisi positifnya, jika buruh bisa sukses dengan jalan usahanya, buruh bisa membuka lapangan kerja dan mampu menyerap tenaga kerja.

  1. Pendidikan 12 tahun gratis dan merata di seluruh negeri.

Buruh termasuk masyarakat yang berpenghasilan rendah, subsidi wajib disediakan selama masih ada rakyat tidak mampu[7].  Pendidikan SD sampai SMA merupakan pendidikan dasar yang harus dikecap oleh setiap penduduk dengan umur wajib sekolah. Pendidikan tersebut merupakan bekal dasar yang harus dimiliki untuk bisa menghidupi kebutuhan dasar dalam hidup. Dengan pemerataan pendidikan di seluruh Indonesia dapat berdampak hasil perubahan yang masif. Subsidi pendidikan ini juga dapat meringankan kehidupan buruh dengan pengurangan biaya pendidikan pada daftar kebutuhan hidupnya. Bantuan subsidi ini juga berefek dapat meringankan beban psikologis buruh saat bekerja.

  1.  Pemberian pendidikan dan training bagi buruh dari perusahaan.

Perusahaan juga dapat meningkatkan nilai produktifitas pekerjanya melalui pembekalan dengan pendidikan dan training yang diadakan mandiri oleh perusahaan. Dari hal positif tersebut, juga tercipta mindset positif diantara buruh. Bahwa peningkatan upah hanya akan terjadi seiring peningkatan kualitas dan produktifitas mereka terhadap perusahaan. Mindset negatif yang terbentuk selama ini, bisa dikurangi sedikit demi sedikit dengan lingkungan kerja positif berdasarkan nilai produktifitas yang bisa dihasilkan untuk perusahaan.

  1. Organisasi buruh mampu menjadi penampung bijak atas aspirasi buruh

Sebagai organisasi yang dekat dan memperjuangkan hak-hak buruh, idealnya organisasi buruh sebagai wadah berkumpulnya individu-individu analis, kritis dan cerdas bisa mengakomodir aspirasi buruh dengan cara bijak dan patut. Diharapkan dengan diakomodir oleh manusia-manusia cerdas, tanggal 1 Mei sebagai hari buruh internasional diperingati sebagai hari peningkatan produktifitas seluruh buruh di Indonesia, bukan hari kelabu yang menambah daftar buruk buruh Indonesia.

Esensinya, siapapun ia, dengan profesi apa pun ia, terlebih pada buruh, kaum yang di’eksploitasi’ tenaga dan waktunya, kaum yang merasa di anaktirikan dalam penghitungan pembagian nilai gaji adalah saudara kita yang perlu kita  bantu, perlu kita kuatkan pondasinya untuk tidak merasa termarjinalkan di negeri ini. Pondasi itu berupa kekuatan pendidikan sebagai modal dasar dan utama untuk mengubah kehidupan sendiri ke arah yang lebih baik dan lebih mandiri. Dan amanah itu, ada di pundak kita masing-masing, untuk bersama-sama menggalang kekuatan untuk Indonesia yang lebih aik kedepannya.

Sumber gambar:

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/05/01/mm3zmj-ribuan-buruh-turun-ke-jalan-peringati-hari-buruh-internasional

http://hukum.kompasiana.com/2013/10/28/buruh-nasibmu-kini–602912.html

http://forumkeadilan.com/read/2013/04/29/hari-buruh-1-mei-libur-mulai-tahun-depan/

 


[1]Darwin Saleh. Pendidikan Tidak Berkualitas, Akar Problema Buruh. Diakses Pada tanggal 29 Januari 2014 http://darwinsaleh.com/?page_id=710

[2]Darwin Saleh. Buku Potret Dhuafa Perekonomian Indonesia. Diakses Pada Tanggal 29 Januari 2014. http://darwinsaleh.com/?page_id=2102

[4] Media berita online (internet) diakses pada tangal 29 Januari 2014. http://www.antaranews.com/berita/407778/hari-ini-100-ribu-buruh-tangerang-demo

[6] Darwin Saleh. Penguatan Dalam Ekonomi Kita. Diakses Pada Tanggal 29 Januari 2014. http://darwinsaleh.com/?page_id=698

[7] Darwin Saleh. Subsisi Wajib Disediakan Selama Masih Ada Rakyat Tidak Mampu. http://darwinsaleh.com/?page_id=702

Advertisements

6 thoughts on “OTAK LEBIH BERHARGA DIBANDING OTOT

  1. Kalau menurut saya sih saat ini buruh sudah kebablasan, mereka lebih baik berdemo dibandingkan meningkatkan kualitas kerja atau pendidikan. Salah satu problema di negeri ini adalah mudahnya masyarakat terkonfrontasi termasuk buruh, yang begitu mudahnya diajak berdemo yang tentunya akan mengganggu stabilitas keamanan dan ekonomi. Mahalnya harga saat ini salah satu penyebabnya adalah demo buruh yang meminta UMR naik yang secara cepat direspon oleh pasar walaupun kenaikan itu masih dalam tahap negosiasi. Alhasil ketika UMR benar-benar naik, maka gaji mereka juga tidak akan pernah cukup karena semua harga di pasar sudah lebih dulu naik. Ditambah dengan praktek politik praktis yang dilakukan oleh pejabat pemda membuat industri semakin sulit, indusri tetap maenaikan umr sesuai ketentuan pemda sementara untuk pekerja diatasnya seperti supervisor ke atas tidak mengalami kenaikan sehingga jarak gaji level management dan buruh sangat dekat sementara tanggungjawabnya dsangat jauh berbeda. Dan dengan sistim UMR ini, buruh yang sudah bekerja puluhan tahun akan sama gajinya dengan buruh yang baru masuk kalaupun berbeda hanya hitungan ratusan ribu saja, sehingga akan membuat kondisi pekerjaan yang tidak sehat.

    1. Ya, semua menjadi satu kesatuan mulai dari wacana yang berkembang di masyarakat yang dimotori oleh perkembangan informasi, politisi yang juga turut ambil bagian, dan sistem gaji yang memang terkesan tidak pro buruh. Jika ditilik ujungnya akan bermula di rendahnya pendidikan buruh sehingga gampang terkonfrontasi oleh informasi yang masih keruh.

  2. setuju, emangny adu panco pake otot, hehehe…diperlukan keseriusan pemerintah melalui BP2TKI untuk meningkatkan kemampuan “otak” para pahlawan devisa kita 🙂

Comments are closed.