Writing Contest

Dimana Dicari Pemimpin Teladan di Negeriku?

Dimana Dicari Pemimpin Teladan di Negeriku?

”Berkenaan dengan tema Menghadirkan Teladan Kepemimpinan Bapak Bangsa di masa kini yang terkandung dalam artikel berjudul Semangat Juang FDR[1] di www. darwinsaleh.com, saya berpandangan bahwa saya setuju karena hanya dengan semangat dan daya juang yang luar biasa serta tak luput dari ridho Tuhan-lah yang mampu menghantarkan seseorang ke tahta paling tinggi, dan aktualitas diri sarat manfaat. Perjuangan dan rasa kepedulian yang tinggi merupakan nilai yang patut diteladani dari seorang Franklin Delano Rosevelt. Daya juang yang tinggi memimpin bangsa Amerika melewati masa Great Depression beriringan dengan berjuang untuk terus ‘survive’ dengan keterbatasan yang ada merupakan hal antik dan susah ditemui saat zaman instan yang merajalela saat ini. Rasa kepedulian untuk menyelamatkan negeri dari masa depresi hebat, lahir dari nilai jiwa yang tulus dan terpanggil untuk menuntaskan masalah besar yang sedang dihadapi. Dalam kondisi diri yang lumpuh, kondisi dimana selayaknya ia butuh perhatian khusus justru beliau tidak mengindahkannya, langkah terseok tidak menghentikannya, beliau terus maju, memberi perubahan yang dahsyat bagi perekonomian Amerika. Rasanya, 10 acungan jempol pun tak dapat mewakili pencapaian yang telah dilakukannnya. Semangat juang yang patut ditiru dan diteladani.

Nilai-nilai keteladanan dapat dilihat juga dari seorang tokoh yang terkandung dalam buku Michael H. Hart dalam bukunya yang berjudul Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah. Tokoh tersebut bernama Muhammad yang hidup 570 SM-632 SM, sudah ratusan abad yang lalu[2]. Muhammad termasuk pemimpin yang mengutamakan rakyatnya. Melayani kepentingan orang lain merupakan hal utama yang menjadi tujuan hidupnya sejak bangun saat pagi menjelang. Menjadi pemimpin harus siap melayani umat. Seusai memimpin ibadah subuh berjamaah, beliau selalu bertanya kepada rakyatnya dengan pertanyaan seperti berikut, “ Apakah diantara kamu ada yang sakit, yang perlu aku jenguk?, atau dengan pertanyaan “Adakah diantara kamu jenazah yang harus aku antarkan?. Pertanyaan yang hanya lahir dari seseorang dengan jiwa melayani dari seorang pemimpin. Ya, melayani dan mengutamakan kepentingan orang lain adalah keutamaan baginya. Bukan seorang pemimpin yang menciptakan jeda dan jarak antara yang dipimpin dengan yang memimpin. Beliau adalah sosok pemimpin yang menaruh perhatian pada setiap duka rakyatnya, mengorbankan pikiran, waktu dan hartanya untuk rakyatnya. Semangat juang dan kepedulian yang tinggi yang teramat kita rindukan pada pemimpin di negeri ini.

Nilai keteladanan dapat ditiru dari tokoh jiwa-jiwa peduli yang tersebar di seluruh negeri. Kisah Bu Guru Een Sukaesih yang sudah lumpuh, berada di atas kasur, yang terus bertekad kuat untuk tetap mengajar[3].  Ibu  berumur 32 tahun tersebut  menderita penyakit Rheumatoid arthritis yang membuatnya lumpuh selama 26  tahun. Dengan kondisi lumpuh dan terbaring diatas tempat tidur, beliau memiliki semangat juang dan kepedulian yang tinggi untuk terus mengajar dan bermanfaat untuk orang lain.

Bu Een Sukaesih terus mengajar
Bu Een Sukaesih terus mengajar

Asma Nadia, seorang penulis yang berasal dari keluarga miskin yang sempat tinggal di pinggiran rel kereta api. Dengan beragam penyakit yang dideritanya mulai dari geger otak, sakit jantung, sakit paru-paru, dan tumor dilehernya tidak menghentikan langkahnya untuk terus menulis dan berkontribusi nyata bagi negeri. Dengan segala ancaman penyakit yang dideritanya, kepedulian  dengan mendirikan rumah baca di seluruh pelosok negeri menyalakan harapan anak-anak bangsa untuk terus berjuang di tengah keterbatasan. Wanita yang termasuk salah satu dari tujuh orang yang berpengaruh di Indonesia dan termasuk 500 orang yang berpengaruh di dunia, sudah menulis 49 buku dan beberapa karyanya juga difilmkan. Seluruh karyanya banyak mengubah kehidupan orang banyak[4].

terus berkarya di tengah peyakit yang mendera
terus berkarya di tengah peyakit yang mendera

Sosok yang satu ini, datang dari seorang suster dari pelosok negeri. Suster Rabiah, begitu panggilannya. Seorang suster yang berjuang ditengah keterbatasan  dan menggunakan perahu menyambangi 25 pulau di Kepulauan Flores, Nusa Tenggara Timur jika ada yang memerlukan bantuannya. Semangat juang dan rela berkorban untuk penduduk negeri yang tidak semua suster miliki. Bahkan beliau juga  sempat terdampar 7 hari 7 malam ketika melaksanakan tugas karena perahu motornya menghantam karang[5].

suster Rabiah sedang bertugas
suster Rabiah sedang bertugas

Nilai-nilai keteladanan yang tersebar di negeri Indonesia. Yang patut dianak pinakkan untuk bisa berkembang biak di kandungan ibu pertiwi.

Berlawanan dengan nilai keteladanan yang tumbuh malu-malu di negeri ini, tak sedikit kasus diluar keteladanan seperti korupsi yang ingin menampakkan wujudnya dan mencuat ke permukaan. Baru – baru ini, misalnya kasus korupsi dari petinggi Banten, kasus mantan Puteri Indonesia, yang diduga rakus menguras keuangan negara. Nilai keteladanan yang layaknya difungsikan untuk mengurangi beban di punggung rakyat namun justru menjadi ‘silent disease’ yang menggerogoti jantung perekonomian rakyat dan menguliti habis kesejahteraan yang belum lama dikecap atau singgah di rumah rakyat. Menjadi wakil rakyat atau pemimpin, hanya menjadi sekedar gelar saja. ‘Prestige’ yang melekat menjadi topeng untuk aksi tanpa rasa malu ini. Para petinggi negeri jauh dari nilai – nilai yang memperjuangkan hak rakyat, jauh dari kata-kata manis yang di-gombalkan ketika masa promosi dulu. Sungguh, mereka sudah lupa janji setia itu. Janji setia yang digantungkan oleh setiap ibu dengan harapan bahwa esok anaknya akan bisa mengecap pendidikan gratis, bahwa esok seorang ayah bisa memberikan beras untuk keluarganya menggantikan singkong dan garam yang jadi santapan tiap hari, bahwa esok seorang anak jalanan bangun dari mimpi buruknya bisa melepaskan botol minuman kecil berisi segenggam beras sebagai alat mujarab menemaninya ngamen selama ini. Mimpi yang tidak muluk-muluk dari seorang ibu, ayah, dan anak, namun berimbas hebat jika dapat terwujud nyata. Idealnya, setiap pemimpin, setiap wakil rakyat memiliki semangat juang untuk mewujudnyatakan setiap mimpi rakyat. Bukankah, negara harus menjangkau seluruh rakyat[6].  Setiap UU yang disusun terkandung hak rakyat. Setiap UU yang dirancang, dirancang dari jeritan rakyat. Setiap UU disuarakan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Vox Vopuli Vox Dei, suara rakyat suara Tuhan. Begitu idealnya…

Ditepi ketidakpedulian sang petinggi negeri, saya sebagai kaum muda, sebagai rakyat biasa, kami masih menumbuhkan harapan ditengah padang gersang ketidakpedulian ini. Tetap menyimpan setitik asa, dan berharap semoga titik embun peduli satu dua orang yang belum tentu petinggi negeri dapat mengobati luka dan semakin melipatgandakan harapan bahwa masa miskin pemimpin teladan di bumi Indonesia hanya tumbuh sekali saja. Generasi dengan ungkapan cinta yang tak bertanggungjawab ini akan perlahan-lahan berganti dengan generasi korban sakit hati. Bahwa dendam ini akan lahir menjadi dendam positif yang tumbuh di tiap sanubari generasi muda. Bahwa penderitaan yang dialami generasi korban sakit hati akan menjelma menjadi sebuah kekuatan dahsyat. Kekuatan dengan niatan tulus dari sanubari yang sudah pernah meradang luka dan tak ingin menyebarkan virus luka lebih luas lagi. Kekuatan untuk merubah negeri Indonesia tercinta yang sejatinya peduli setiap makhluk yang bernyawa. Kekuatan tersebut akan menjadi sebuah kekuatan besar jika setiap rakyat bahu membahu, bersama menggalang kekuatan bangsa[7]. Amanah ini memang merupakan tugas panjang, tapi kita bisa mulai saat ini, sekarang juga. Amanah ini tetap harus dimulai sekalipun belum tentu selesai[8]. Perjuangan tetap harus dimulai sekalipun seseorang tidak sempat menyelesaikannya. Bersama-sama kita menyusun kekuatan untuk membenahi kebobrokan negeri ini.

Semoga generasi muda dan berikutnya merupakan generasi yang punya  urat peduli dan daya juang tinggi. Untuk menumbuhkan kembali nilai-nilai keteladanan semangat juang dan kepedulian seperti Franklin D. Rosevelt, Muhammad, Een Sukaesih, Asma Nadia, dan Rabiah  terlahir di bumi Indonesia dapat ditempuh dengan (1)  Mendukung pemimpin yang memiliki nilai-nilai keteladanan. Contoh paling baik dalam melahirkan keteladanan berikutnya adalah dengan memberikan contoh nyata yaitu seorang pemimpin teladan yang patut di teladani.(2) Memberi apresiasi pada setiap pahlawan yang terlahir dengan jiwa peduli yang tersebar di seluruh negeri. Diharapkan dengan apresiasi tersebut, sang pahlawan akan melahirkan bibit-bibit generasi muda yang punya jiwa semangat juang dan kepedulian yang tinggi. Pemberitaan kepada masyarakat umum tentang sosok-sosok seperti itu sangat penting untuk menanamkan benih peduli  pada masyarakat bahwa untuk menjadi warga manfaat tak perlu untuk menjadi pemimpin terlebih dahulu. Setali tiga uang dengan nasehat pahlawan Ki Hajar Dewantara, “Ing Ngarsa Sung Tulada” yang artinya di depan, seorang pemimpin harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik[9].

Kami kaum muda percaya akan kembali dan datangnya suatu masa cahaya keteladanan melingkupi negeri ini.

 

 


[1]Darwin Saleh. Semangat Juang FDR. Diakses Pada tanggal 26 Januari 2014.  http://darwinsaleh.com/?page_id=629

[2]Muhammad oleh Michael H. Hart, Media berita online diakses pada tanggal 26 januari 2014 http://media.isnet.org/iptek/100/Muhammad.html

[4] Media berita online diakses pada tanggal 26 Januari 2014 http://www.asmadia.net/

[5]Media berita online diakses pada tanggal 26 Januari 2014 http://kamar-bawah.blogspot.com/2013/12/rabiah-suster-yang-bermain-dadu.html

[6] Darwin Saleh. Negara Harus Menjangkau Seluruh Rakyat. Diakses Pada tanggal 26 Januari 2014

http://darwinsaleh.com/?page_id=2030

[7] Darwin Saleh, Bersama Menggalang Kekuatan Bangsa. Diakses Pada Tanggal 26 Januari 2014. http://darwinsaleh.com/?page_id=1941

[8] Darwin Saleh. Tetap Harus Dimulai Sekalipun Belum Selesai. Diakses Pada Tanggal 26 Januari 2014. http://darwinsaleh.com/?page_id=681

10 thoughts on “Dimana Dicari Pemimpin Teladan di Negeriku?

  1. Wah ternyata pemimpin teladan itu ga mesti yang berdasi ya….kita bisa dapat nilai keteladanan dari mereka yang justru jauh dari hiruk pikuk dunia politik, dunia kemewahan, dunia metropolitan, dunia modern. Sungguh, nilai keteladanan hadir dari hati yang tulus, ikhlas, dan ada di sekitar kita.

      1. mungkin ada ya…tidak bsa digeneralisasi begitu aja, hanya mungkin langka saja saat ini 🙂 semoga semakin ramai pemimpin2 yang memiliki nilai keteladanan itu sehingga semnagat juangnya sama seperti semangat juang FDR 🙂

      2. ya.. memang harapan rakyat biasa terlalu tinggi pada petinggi negeri yang nyatanya bnyak mngecewakan.. semoga semakin ramai pemimpin teladan ya mak 🙂

  2. Media kita yang lebih menjual kepada keburukan seperti kasus korupsi, perselingkuhan dan kekerasan membuat seolah-olah negeri ini tidak ada baiknya sama sekali. Setiap pemimpin selalu dicari kesalahannya dan tidak pernah memuji keberhasilannya adalah ciri masyarakat kita yang sudah terkontaminasi oleh media. Sebenarnya kalau kita cermati, masih banyak sekali orang-orang hebat yang mempunyai kepedulian luar biasa terhadap negeri ini namun mereka tidak disentuh oleh media karena nilai ekonomisnya kurang. Contoh saja program 100 jembatan untuk indonesia, disana ada sebuah kelompok yang membangun jembatan di daerah yang tidak tersentuh pemdanya murni dari dana donasi bahkan mereka ada dari kumpulan anak-anak SMU dan pasukan KOPASSUS yang turut serta. Dalam dunia pendidikan, ada sekolah MASTER di Depok dan sekolah-sekolah gratis lainnya untuk orang yang tidak mampu. Banyak sekali keteladanan di negeri ini dan tidak akan pernah terhitung. Banyak sekali orang yang memprotes kebijakan namun tidak pernah memberikan sumbangsih sama sekali, memang mengkritik lebih mudah daripada bertbuat.

    1. media memang menjadi sumber informasi bagi masyarakat, jadi apa yang disevbarkan oleh media , hal itu pula yang akan menjadi pegangan masyarakat. Pentingnya peran media sangat berpengaruh terhadap opini yang terjadi di masyarakat. Justru itulah yang kurang di masyarakat pers sekarang, ternyata justru banyak intan -intan yang tersebar luas di seluruh negeri. Idealnya, itu yang harus disiarkan ke masyarakat banyak agar tercipta mindset positif yang membantu masyarakat maju dan Indonesia semakin lebih baik kedepannya.

Comments are closed.