Education · Love Life

Belajar dari Bunda Asma Nadia & Pak Isa

Hari Sabtu kemarin, hari yang sangat sangat sangat berkesan n meaningful buat saya. At last, ketemu sama Bunda Asma Nadia dalam sebuah acara dengan tema Inspiring Journalisme, Inspiring Your Life yang digelar oleh sebuah akademi di Bogor. Menurut saya, lokasi acara sangat tidak strategis. Tidak diadakan di jantung kota. Justru sangat jauh, dan berliku-liku dari jantung kota. Meskipun tinggal di Bogor, terus terang saya belum hafal dengan sudut-sudut kotanya yang tersebar luas. Julukan kota sejuta angkot, memang sangat layak untuk kota hujan ini.

Saya janjian dengan salah satu Mak KEB, ‘Mak Sofy’ untuk mengikuti acara tersebut. Dengan prediksi acara molor satu jam, kami sampai di tempat acara pukul 09.04 WIB.  Sesampai disana, panitia acara mengusung konsep jepang. Sempat bingung, apa kita salah gedung atau tepatnya salah lokasi acara. Mungkin panitia lagi demam jepang atau ada terselip lomba konsep Jepang di acara tersebut, pikir saya. Sudahlah, mari masuk aula-nya, lirik posisi duduk paling depan dan duduk manis untuk turut mendengarkan kata2 sambutan yang sedang berlangsung saat itu.

Sekitar pukul 10, tamu yang dinanti2 datang dan memasuki ruangan. Aura yang terpancar pertama kali melihat Bunda Asma, adalah kesederhanaan. Dengan seabrek dan segambreng achievement yang sudah tersemat di namanya, Bunda muncul dengan kesederhanaannya, kerudung biru, baju corak batik biru, rok jeans, dan satu yang tertangkap mata n like abiisss sepatu boot bunda, hehehe. Yup, bunda sangat sederhana.

123
Bunda Asma Nadia

Kurang lebih satu jam 30 menit Bunda Asma memaparkan materinya, kebetulan kemarin materinya bedah buku “Twitografi Asma Nadia”. Sebuah buku yang berisi kumpulan twit Bunda Asma yang dibukukan dengan beberapa topik menarik. Niat hati ingin nyatet tiap poin penting yang disampaikan sebagai bekal ilmu menulis untuk bisa lebih baik lagi. Daaann… hasilnya adalaaahh, catatan hanya berisi hari dan tanggal aja. Kenapa demikian?.. sebab musababnya karena semua yang disampaikan Bunda berasa penting, ampe bingung mo nyatet yang mana dulu. Oke, mari kita tinggalkan note-nya. Daripada gak bawa oleh2 pulang, saya manfaatin audio recorder dari hp biar bisa khusyuk dengerin Bunda. Dan juga, hasilnya gak maksima.l Haha maaffkan.

“Selain karena ingin membahagiakan orangtua, Bunda Asma menulis dengan motivasi karena kepedulian pada negeri, kepedulian pada muslimah, kepedulian pada ibu rumah tangga, kepedulian pada sesama. Bahwa dengan menulis kita tanpa sadar bisa merubah kehidupan orang lain.  Tidak hanya satu orang, puluhan, ratusan, tetapi bahkan jutaan orang. Menulis itu berjuang. Menulis itu tak punya kata henti.” begitu kalimat sakti Bunda.

Naaahh… yang bikin lucky banget, seusai acara Bunda Asma, bersama suaminya Pak Isa Alamsyah digelar kopdar Komunitas Bisa Menulis (KBM). Alhamdulillaah banget, satu kayu dua tiga puluh terlampaui. Bersama dua penulis ternama, Bunda Asma dan Pak Isa. Keduanya down to earth banget, berbagi ilmu menulis, tanya langsung ke narasumber tentang kesulitan yang dialami saat menulis dan tips untuk terus menulis. Mata gak kepejam dengerin keduanya antusias berbagi ilmu, wajah tegang bercampur antara senang pake banget dan percaya gak percaya kalo sedang ngobrol dengan penulis yang sudah saya kenal sejak SMA dulu. Kurang dari dua jam, kopdar itu berakhir. Semua member KBM  pulang dengan wajah senang, bawa oleh2 ilmu, bawa oleh2 semangat, semangat yang semula redup kembali nyala dengan warna baru. Alhamdulillah..

kopdar with KBM
kopdar with KBM

 

with Bunda Asma
with Bunda Asma

Semua member KEB pamit pulang, salaman hangat dari Bunda dan cipika cipiki berasa luar biasa siang itu. Karena sebelumnya sempet curhat berdua dengan bunda, Bunda titip pesan “Terus berjuang, langitkan mimpimu, ditunggu kabarnya”. Pesan singkat yang sarat makna buatku. Terimakasih Bunda, Semoga dilimpahi keberkahan untuk Bunda sekeluarga.

Terimakasih Allohku

25 januari 2014

yang disampaikan dari hati sampai ke hati
yang disampaikan dari hati sampai ke hati
Advertisements

23 thoughts on “Belajar dari Bunda Asma Nadia & Pak Isa

  1. huwaaa,pengen juga ketemuan sepertinya bunda Asma Nadia itu seorang yang membiarkan kita bermimpi dan menjaga impian kita ya…jangan pupuskan impianmu, teruslah berjuang, semoga semua impiannya yang terbaik menurut Allah SWT tercapai aamiin, klo keliling dunia ajak2 ya 🙂

    1. iya kak.. kebetulan bunda juga pemimpi traveler sejak kecil, mungkin jadi berasa klop:)
      Aaamiinn semoga setiap perjalanan hidup memperkuat cinta padaNYA, insy.. semoga klo jalan, jalan2 1 kluarga besar 🙂

  2. Salah satu penulis favorit saya mba 🙂
    Liat fotonya berdua sama mba asma, saya jadi inget pernah foto juga sama beliau dan fotonya ilang seiring dgn hilangnya hape saya 😦

Comments are closed.