life book

Scappa per Amore (3) Bottom Line

Image

Naahhh, yang ini bagian ketiga dari scappa per amore,  sebelum2nya saya udah post tentang ini juga, awal ketemu novel ini, kamu bisa baca disini, n bottom line yg pertama bisa ketemu disini 🙂

Silahkan dinikmati yang lanjutan ketiganya 🙂

  • Kalau takut berarti kita tidak pernah percaya kalau Allah itu ada. Aku yakin banyak rencana indah yang sudah digariskan untukku, Jadi, kalau cobaannya juga banyak kenapa harus mengeluh?. Bukankah dibalik kesulitan ada kemudahan?.
  • Banyak manusia yang keliru memaknai hidupnya, tapi lebih banyak lagi yang menjalaninya tanpa makna. Hanya sedikit orang yang paham mengapa dan untuk apa dia hidup.
  • Aku merasa hidup saat mengingat kematian. Krena sebenarnya hidup itu hanya fatamorgana dan mati itu adalah kepastian.
  • Tidak ada manusia yang mampu berjalan sendiri tanpa campur tangan Tuhan, untuk itulah kita harus banyak bersujud meminta pertolonganNYA.
  • Hidup itu adalah soal menyiapkan bekal menuju keabadian. Di dunia ini banyak sekali ladang amal, tapi manusia sering lupa menggarapnya. Mereka hanya sibuk mengurusi dunia, mengejar cita-cita, berambisi untuk selalu menggapai yang belum ada. Parahnya, mereka malah menderita karena merasa tidak bahagia dengan apa yang telah dimiliki dan dilewati. Lucu bukan?.
  • Padahal hidup itu sebenarnya sederhana. Hanya soal belajar menerima dan menjalaninya dengan ikhlas. Manusia saja yang membuatnya rumit.
  • Memberi nutrisi pada jiwa itu lebih penting dibanding sekadar memuaskan dahaga dari tuntutan hidup yang tiada habisnya. Kalau tidak, hidup ini akan lebih banyak lelah daripada indahnya. Selalu penuh keluhan sampai lupa bersyukur.
  • Dulu, aku juga seorang pencari sejati. Pencapaian adalah tujuanku, dan penaklukan adalah kepuasanku. Kini aku sadar semua itu tidak ada artinya jika pembuktian itu hanya ditujukan pada manusia. Jangan lupa, ada Tuhan yang melihat kita –lengkap dengan malaikatnya.
  • Jika cobaan sepanjang sungai maka kesabaran harus seluas samudera.
  • Hidup itu sekarang, Jadi mikirnya gak usah terlalu jauh.
  • Doain saja. Sudah ada Allah yang jaga.
  • Aku tidak memaksa mereka mengerti. Aku hanya menjalani apa yang kuyakini benar dan itu urusanku sama Allah.
  • Ikhtiar itu tugas manusia. Selebihnya, serahkan saja pada Allah. Percayalah, rezeki kita tidak akan tertukar.
  • Pengalaman itu modal untuk memaknai hidup dan membuat hidupmu jadi lebih bermakna.
  • Hidup tidak hanya untuk meminta dan mengejar sesuatu, tetapi juga harus mau menerima dan memaafkan.
  • Berat ringannya masalah, adalah bumbu untuk mematangkan jiwa, bukan untuk melemahkan. Hanya kesabaran yang bisa menghadapi segala kemarahan, kebencian, dan kekecewaan. Pada akhirnya setiap masalah selalu akan berujung dengan penyelesaian. Entah dengan cara apa. Tetapi selalu ada hikmah dibalik semua peristiwa.
  • Andai aku begini dan begitu, pasti akan seperti ini dan seperti itu. Padahal kita tidak pernah tahu apakah perandaian itu akan menjadikan kita lebih sempurna, bahagia atau malah sebaliknya. Ternyata mengenali diri sendiri itu jau lebih susah ketimbang mengenali orang lain. Jalan lurus yang semula begitu lempeng dilewati, bisa saja seketika berkelok dan berliku hanya karena ego dan nafsu semata. Mengendalikan diri sendiri itu tak ubahnya memasukkan unta ke dalam lubang jarum. Butuh kebijaksanaan dan kesabaran.

Itu bottom line yang saya peroleh dari novel ini, semoga bisa memperkaya rasa dan jiwa sahabat 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Scappa per Amore (3) Bottom Line

Comments are closed.