Love Life · Writing Contest

Kepada Calon Imamku

Mitsaqan Ghaliza

Sebelum memulai tulisan serius bin ngayal ini hihi, saya mau ngaca dulu ya bentar..

*hey hey, ada yg mau ikutan ngaca gak?, barengan yuk?.  Haha iseng banget ya ngaca aja kok ngajak ngajak, hehehe.  Kalo ngomongin soal jodoh, saya pasti ingetnya mau ngaca dulu.. hihi. Inget sama janji Alloh yang satu ini nih. Ada di surah An-nur ayat 26, yang artinya “Perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan perempuan yg buruk untuk laki-laki yang buruk”, tuh gamblang banget kan Alloh jelasinnya.

Mari ngaca lagi.. hehe.

Sebagai seseorang yang termasuk kategori nikah-able, saya masih terus ngaca diri , ngomongin soal yang satu ini, langsung ON dan jadi topik yang gak pernah bisa puas untuk ngebahasnya. Maklum saja lah ya..yang punya gudang jodoh, belum buka rahasiaNYA. Jadi masih suka ngoceh tentang sosok  yang insy akan jadi pendamping dunia akhirat.

hmm.. ngomong-ngomong tentang kriteria calon imam ini, kita mulai dengan Bismillah ajah ya. Hari berganti bulan, bulan beranjak berganti tahun, tak terasa waktu sangat bergulir cepat. Begitu juga dengan umur yang semakin matang  dan seiring semakin berkurangnya jatah umur di dunia. Menikah adalah satu momen kehidupan yang diimpikan baik kaum venus dan mars.

Ijab-Qabul
Momen ijab kabul merupakan momen yang sangat sakral, momen dimana seorang pria mengambil tanggungjawab dunia akhirat atas seorang wanita yang diberi nama istri, dan momen terharu yang biasa diungkapkan dengan tangis bahagia oleh seorang istri saat pengucapan SAH dari pihak penghulu dan seluruh tamu yang hadir, juga merupakan momen perjanjian yang kuat yang diikrarkan dan bertanggungjawab penuh kepada Sang Maha Pemberi Cinta

Hmm.. saya selalu melting saat mendengar momen ijab kabul itu. Gimana ceritanya ya, kalo saya ada di posisi kursi panas itu, hehe.. (kursi ijab kabul itu, saya dan temen saya selalu bilang kalo kursi untuk proses ijab kabul dengan julukan ‘kursi panas’). Momen sakral itu insy akan diceritakan disini kalo Allah kasih kesempatan untuk momen itu  ya.. hehe. Mohon doanya 🙂

Sebelum menjelang momen sakral itu, izinkan saya melanjutkan tulisan ini ya, semoga menjadi sebuah proposal cinta dihadapanNYA. Sengaja saya tuliskan seperti sebuah surat, agar si calon imam lebih enak bacanya, hehe.. (hey, calon imam di belahan dunia manapun berada, tolong luangkan waktumu sebentar untuk baca surat ini ya :)) * pede abis dah ngomongnya.

letter

Kita mulakan dengan Bismillaah 🙂

Kepada…Calon Imamku,

Duhai engkau calon imamku,

Semoga baik baik saja ya disana, selamat berjuang menyongsong hari. Semoga tiap lelah dan peluhmu bermuara pada si empunya kehidupan. Aku ingin memanggilmu sebagai imamku, semoga kamu berkenan.. Aku memanggilmu sebagai imamku, dengan alasan aku ingin kelak engkau mampu menjadi imam dalam keluarga kita. Seseorang yang akan menjadi pemimpin arah tujuan kehidupan keluarga sesuai dengan visi yang sudah kita sepakati sebelum kata qabul keluar dari mulutmu di hari sakral itu.  So..banyak2in bekal untuk jadi imam keluarga ya..dan aku akan belajar untuk menjadi makmum yang baik, insy.

Duhai engkau yang sedang belajar jadi imam,

Inget kata-kata orangtua nih ya.. kalo mau kenalan dengan si calon imam, selain bisa jadi imam, dia harus bisa kasih nafkah buat istri dan insy anak2nya. Bukannya saya seorang cewek matre, tapi ya, semoga dengan penggenapan nafkah yang engkau berikan menjadi bentuk pertanggungjawabanmu atasku dan  janjimu kepada Tuhan. Nah, semoga engkau sang calon imam sudah prepare itu juga untuk kehidupan awal kita menggenap. Jika pun merasa belum cukup, ada Allah yang Maha mencukupkan bukan?.

Duhai engkau yang masih sedang mempersiapkan diri,

Duhai engkau calon imamku.., yang aku yakini sekarang bahwa kita belum sama- sama baik, makanya IA belum mempertemukan kita. Saya belum menjadi wanita yang pantas dan baik untuk mendampingimu, dan begitu juga sebaliknya. Insy, masih ada waktu untuk memperbaiki diri. Mari segera saling memperbaiki diri. Jika pertemuan itu kelak terjadi, bukannya aku tanpa kekurangan, dan tentu masih punya banyak kelemahan lainnya. Namun mungkin saat itu, IA percayakan hadirmu bisa mewarnai hitam diri untuk bisa menjadi lebih baik dihadapanNYA. Kita bertemu untuk bisa saling menyempurnakan, bukan?.

Menikah cukup sekali, insy dan semoga begitu juga dengan pernikahan ini. Maka saya mohon engkau juga sedang belajar untuk mempersiapkan diri sebagai bekal untuk menjadi pemimpin keluarga. Begitu juga dengan saya disini.. Bekal didikan orang tua, waktu yang engkau habiskan di bangku kuliah, konsep diri yang engkau kecap di kuliah kehidupan, semoga tidak hanya menjadi  sekedar tumpukan diktat dan pewarna hidup semata. Semoga kelak bisa menjadi pewarna teduh kehidupan  kita. Mungkin masih terkesan teoritikal, karena saya juga masih belajar. Semoga bisa menjadi pijakan benar dalam mengambil langkah.

Sampaikan terimakasihku  untuk ibu dan ayah di rumah dari si calon menantu :), terimakasih karena  sudah menyiapkan sang imamku dalam kasih sayang. Sang Pemilik Kehidupan yang merupakan muara kesyukuran yang mempertemukan kita dalam indahnya skenarionya. Alhamdulillah.. Segala puja puji bagiNYA.

Dengan Bismillah kuawali surat untukmu ini, dengan Bismillah juga mari kita mulai perjalanan biduk penggenapan yang menjelang  dihadapan.

Terimakasih atas waktu untuk menyempatkan membaca surat sederhana ini.

Udahan ya, suratnya. hehehe..cukup sekian dan terrimakasih.

Doa sebelum menutup tulisan ini, Semoga IA jodohkan hamba dengan seseorang yang IA sempurnakan imannya dengan ketaatan pada Allah dan rasulnya, IA sempurnakan akalnya dengan wawasan yang luas, IA sempurnakan ekonominya dengan jalan rezeki yang halal, dan IA sempurnakan jiwa sosialnya agar tidak lupa untuk berbagi. Aamin ya Rabb

Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Novel Perjanjian yang Kuat  Mak Leylahana lho :). Terimakasih momen GA nya mak, kalo gak ada GA ini, kayaknya surat buat si calon imam bakalan gak pernah ada ;).

sumber foto disini

Advertisements

32 thoughts on “Kepada Calon Imamku

Comments are closed.