Love Life

Ibu, Cinta Tanpa Akhir

Love-Postcard-Envelope

Surat untuk umak

Umak, begitu aku memanggilnya

Wanita yang mengandungku sembilan bulan lamanya

Wanita yang kubangunkan tidur lelapnya ketika suara adzan shubuh menggema di bumi

Di shubuh pagi itu, aku ditakdirkan untuk mencium wangi bumi,

Aku  ingin segera menghiasi duniamu, membuat senyum di wajah letihmu sesaat setelah melahirkanku

Suara tangisku, itu yang pertama  kau dengar,

begitu ceritamu ketika kutanya tentang kelahiran putrimu yang sudah tidak kecil ini lagi *tutup muka 😉

Tangisku dibalas dengan senyum manismu, tapi tak tau..aku bukannya membalas senyummu.aku masih terus menangis

Ada air mata  yang mengumpul di sudut matamu, satu dua tetes mengalir. Aku taw setelah aku gede ni mak,  klo air mata itu adalah tangis bahagia. Aku terus menangis,

sesaat setelah kudengar kata allohu akbar, aku khusuk mendengarkannya. Bapak sedang meng-adzanku, sesaat setelah itu selesai.

Aku menangis lagi…sekarang, aku sudah diletakkan di sampingmu, sudah dimandikan, pake bedak baru, minyak kayu putih yang wanginya seger itu, pake baju yang baru dilepas merknya, gurita juga sama, serta popok kain. Kain panjang warna coklat bermotif batik dibalutkan ke badanku. Hangat. Alhamdulillah. Trimakasih Mak. Aku berkali-kali dicium Bu Bidan, sebagai baby imut, aku pasrah saja 🙂

Ada sentuhan lembut mendarat di pipi kananku, eh dan juga pipi  kiriku, berkali2. Semoga tebakanku benar, bahwa itu adalah ciuman pertama yang kudapat darimu, mak.

Berada disampingmu itu menentramkan mak, selesai mandi, aku berasa seger, dan dilanjutkan dengan bobok manis.

Terdengar riuh, ada yang berdatangan ke pintu kamar, silih berganti, mereka bergantian menciumku, ehmmm..aku pura2 tidur sajalah, aku biarkan mereka mencium pipiku yang masih mulus. Lagi2..aku pasrah mak :), tak mengapa..asal engkau ada disampingku.

Dan sekarang…….,

sudah lebih seperempat abad hadirmu di hidupku mak.

Dan aku…

masih saja nakal,

masih kekanak2an,

masih suka manja,

masih suka minta dimasakin ini itu,

masih suka kesel setiap ada perbedaan pemahaman antara kita,

masih suka lupa untuk memberi kabar ,

masih belum jujur tentang sesuatu yang  memang aku simpan dalam2,

masih suka bohong kalo aku masih suka makan mi, ups

masih suka boros belanja.

Ampuun ya mak.. masih banyak masih.. masih.. lainnya.

*Tutup muka

Jika suatu saat nanti, surat ini ada kesempatan engkau baca mak, (ketika aku sengaja atau tak sengaja meninggalkan laptop  dengan home blogku ini mungkin, hehehe modus bgt ya, hihi)

semoga umak memaafkan segala kekurangan putrimu ini ya mak. Sungguh cintamu itu tanpa akhir.

Yang mampu menerima segala kekuarangan dobel tripel kuadrat yang aku punya.

So blessing….,thankful to have you, maski berjauhan, kutau doamu selalu dekat denganku, dan menjadi hembusan nafas ku dalam setiap detik hidupku.

I love u so mom

Terimakasih

Berawal darimu, aku mengenal hembusan nafas cintaNYA

Terimakasih..terimakasih..termakasih..

Alhamdulillah..

Salam cinta dan hormat saya untuk seluruh ibu

Happy mother’s day

 

sumber foto: disini

Advertisements

10 thoughts on “Ibu, Cinta Tanpa Akhir

Comments are closed.