Love Life

Harusnya Tak Memiliki vs Tak Harus Miliki

Pernahkah merasa bahwa kamu telah memiliki segalanya?.. atau sederhananya, pernah merasa memiliki uang Rp. 10.000 atau lebih  yang ada dalam dompetmu. Pernah merasa memiliki handphone yang sedang ada dalam genggamanmu saat ini. Pernah bukan?. . Bagian cerita kehidupan yang pernah dialami setiap orang.

Bukankah mutlaknya kita tidak pernah memiliki apapun.

Jari yang sedang mengetik ini, bukan punya kita..

Mata yang sedang menatap ini, bukan punya kita..

Telinga yang sedang mendengar musik  ini, bukan punya kita..

Kaki yang suka jalan-jalan ini bukan punya kita..

Mulut yang sedang makan ini,juga bukan punya kita..

Tidak..kita tidak memiliki apapun.Jari, tangan, kaki, mata, telinga, dan mulut bukan menjadi hak milik kita. Kita semua hanya diberi hak untuk menjaga. Menjaga setiap kekayaan yang dititipkan pada setiap kita.  Bukan memilikinya.

Uang sepuluh ribu dalam dompet, hanya dititipkan untuk kita. Uang itu bisa saja “diminta” oleh seseorang yang memohon belas kasihmu karena sudah tidak makan seharian. Handphone yang sedang dalam genggamanmu bisa saja terjatuh di jalan, dicopet orang, atau engkau merasa perlu untuk menghibahkannya kepada saudaramu yang membutuhkan.  Sederhana.. harusnya kita tidak perlu untuk merasa sedih itu. Sedih ketika handphone itu sekarang sudah tidak ada dalam genggamanmu lagi, sedih ketika uang tersebut tidak jadi engkau belikan untuk makan siangmu saat di kantor, tak ada lagi sedih itu. Tak ada lagi rasa kehilangan itu. Pernah tau pepatah ini, bahwa jika Tuhan mengambil titipanNYA maka IA akan menggantikannya dengan yang lebih baik. Kamu tak perlu ragu dengan kalimat ini. Percaya saja, itu saja. Dan rasakan sendiri keajaiban itu datang. Sesuatu yang lebih baik akan menggantikannya. Percaya saja.

Mari belajar untuk tidak memiliki, tetapi hanya sekedar  menghargai sesuatu dengan menjaganya karena sudah dititipkan kepada kita. Mari menjaga apapun bentuk titipan itu.  Uang, rumah, Handphone, mobil, pasangan, anak, orang tua, keluarga adalah titipan semata. Hargai setiap-nya dengan cara yang paling berharga dari hati yang berharga. Begitu juga hati, ia titipan Tuhan. Hargai hati dengan menghargai setiap ciptaan Tuhan. Bolehlah sedih itu ada, namun hanya sekedarnya saja. Jika rasa dengan nama sedih itu masih mendominasi, mari kembali hargai hati, agar ia tidak mengenal rasa sedih yang berlebihan. Mari belajar untuk tidak merasa memiliki.

#selfnote

Advertisements

5 thoughts on “Harusnya Tak Memiliki vs Tak Harus Miliki

Comments are closed.