Writing Contest

(Kader) Srikandi Kesehatan

Potongan kisah satu,

“Buu.., rumahnya masih jauh ya?. hehe.. maaff  nih bu,  panasnya terik banget ya. Ibu gak capek?”, celoteh saya waktu itu. “Nggaaakk, udah caket neng (caket artinya dekat dalam bahasa sunda), Tuuuhh. Tinggal belokan yang di depan kok,” jawab Bu Eti.” Ogt.. belokan depan ya bu.. “(perasaan udah berapa kali belokan depan dari tadi J) ”baiklah mari kita lanjutkan jalannya bu”, saya menjawab dengan suara yang agak berat. Tak berapa lama, belokan depan yang Bu Eti maksud tadi ketemu juga. ”Ituu rumahnya neng, deket kan?” tegas Bu Eti. “Iya bu”,  saya jawab pelan. Dalam hati berkecamuk, si Ibu kok gak berasa capek ya.

Kenapa wajah itu selalu kutemukan pancaran cahaya ketulusan, kedamaian dan jauh dari  kata capek saat sampai di rumah sasaran dan bertemu dengan balita. Perjalanan siang itu kami tempuh dengan naik ojek kurang lebih dua puluh menit setelah turun dari pemberhentian angkot. Kemudian dilanjutkan dengan jalan yang berbatu dan agak mendaki, dan ini adalah anak balita sasaran yang ke sekian untuk perjalanan hari ini. Tapi.. hanya wajah yang menenangkan ku temui di wajah ibu paruh baya itu.

Bu Eti, beliau adalah seorang kader Posyandu di salah satu Kabupaten di wilayah Bogor. Saya mengenal beliau ketika sedang ikut membantu penelitian tentang peningkatan gizi pada balita gizi buruk.  Bu Eti terpilih menjadi salah satu kader pendamping selama berlangsungnya penelitian tersebut. Terjun langsung ke lapang, bertemu dengan balita-balita gizi buruk yang menjadi sasaran penelitian, bertemu dengan ibu-ibu balita yang bingung mengapa anaknya tergolong balita gizi buruk, bertemu dengan kader-kader di desa-desa terpencil yang berbakti dengan hati, sebuah pengalaman yang sungguh luar biasa bagi saya untuk belajar arti berbagi.

Potongan kisah dua,

Kader A : “Udah siang begini, kok pada belom dateng ya.. ibu-ibunya pada sibuk apa?”

Kader B : “Sebentar lagi pada dateng kali”. 10 menit lagi, kita tunggu aja”

Kader C : “Apa ibu-ibu lupa kalo hari ini waktunya, gak salah kasih info kan”

Itu sekelumit pembicaraan ibu-ibu kader di posyandu.Waktu itu, hari Pekan Imunisasi Nasional. Hari dimana anak-anak Indonesia serentak untuk diberi imunisasi di posyandu-posyandu setempat di daerahnya. Selang 10 menit, belum tampak jua ibu-ibu bersama anaknya datang ke posyandu. “Kalo pada gak datang, berarti kita yang kunjungi balita” begitu jawab salah satu kader ketika ditanya apa tindakan yang dilakukan jika balita tidak datang ke posyandu untuk turut diimunisasi.  “Hmm.. satu-satu bu? Tiap anak maksud saya..” tanya saya penasaran. “Iya, kalo nggak mereka dijemput saja dari rumahnya” . “Hebat, luar biasa bu” spontan saya menjawab jawaban hebat dari ibu kader tersebut. “Ah, sudah biasa neng”, balas ibu. Seketika saya diam tanpa kata.

1482066_10200598405797699_1969893981_n

Menjalani profesi yang satu ini tidak memandang umur.  Salah satu kader di wilayah Bogor, seorang ibu yang sudah berumur lebih dari 60 tahun.  Beliau biasa dipanggil dengan sebutan umi. Dengan usia yang tidak muda lagi, beliau masih menjadi kader aktif di Posyandu. Beliau masih mengabdikan diri menjadi kader di tempat tinggalnya. Persyaratan menjadi kader memang tidak muluk-muluk. Sekali lagi, ini pekerjaan sukarela, panggilan hati. Tapi justru syarat yang satu ini yang sulit ditemukan pada setiap individu di masyarakat. Hanya pribadi yang terpilih bisa menjalankan tugas ini.

Dalam menjalankan tugasnya, kader tidak mengenal waktu, tidak mengenal hujan, tidak mengenal terik matahari, tidak mengenal kata capek untuk mengabdi pada masyarakat. Berkunjung dari satu rumah ke rumah lainnya, menemui balita, mengingatkan ibu untuk datang ke posyandu, untuk mengimunisasikan anaknya, untuk menimbang balitanya setiap bulan, mengantarkan paket gizi bulanan untuk balita yang tidak berkunjung ke posyandu, setiap bentuk kegiatan dilakukan dengan senang hati dan hati yang tulus. Marahnya seorang kader juga merupakan bentuk peduli dan bentuk cinta untuk memastikan bahwa setiap balita yang menjadi tanggungjawabnya dapat tumbuh sehat.  Tidak setiap orang memiliki sifat kepedulian tingkat tinggi untuk berbuat hal tersebut.

suasana posyandu
suasana posyandu

Menurut Direktorat Bina Peran Serta Masyarakat Depkes RI, kader adalah warga masyarakat yang berminat menjadi kader, suka menolong orang lain, dan diterima oleh masyarakat setempat. Menjadi kader adalah bentuk pilihan pengabdian masyarakat yang secara sukarela untuk turut serta dalam peningkatan kesehatan masyarakat khususnya di sekitar tempat tinggal. Profesi ini umumnya dilakoni oleh ibu-ibu. Berminat menjadi kader, suka menolong orang lain, bekerja sukarela bukan perkara yang sulit dalam memenuhi persyaratannya. Tetapi, tidak semua orang mau untuk  memilih profesi mulia ini. Profesi kader  memang tidak memiliki embel-embel gelar sebagai bachelor of  kader atau master of kader. Tidak,  kader tidak punya gelar itu. Menjadi kader harus berasal dari diri sendiri, sebuah panggilan jiwa untuk mengabdi bagi masyarakat. Bekerja sukarela menjadi poin pentingnya selain ketertarikan untuk turut berperan serta dalam pembangunan  kesehatan. Sukarela menjadi barang langka dan mahal saat ini.

Kader-kader umumnya menjadi penanggungjawab di Posyandu tempat mereka tinggal. Posyandu merupakan bentuk nyata partisipasi masyarakat dalam dunia kesehatan, dikelola oleh masyarakat dan bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Nafas posyandu adalah kader. Tanggungjawab untuk membantu memelihara dan meningkatkan kesehatan bayi, balita, ibu hamil, ibu melahirkan, ibu nifas dan ibu menyusui serta pasangan usia subur menjadi tanggungjawab kader dan tenaga kesehatan setempat.

Posyandu yang memiliki kader aktif merupakan sebuah keberuntungan bagi masyarakat setempat. Keberuntungan tersebut dimiliki masyarakat setempat karena peran aktif dari kader dalam bertanggungjawab bagi kesehatan masyarakat. Dan tidak semua tempat beruntung untuk memiliki kader yang aktif. Keberadaan kader saja sudah merupakan keberuntungan bagi suatu tempat.

Minat menjadi kader, kepedulian terhadap masyarakat, tingkat pendidikan, kemampuan dan kerelaan untuk mengabdi pada masyarakat  merupakan faktor-faktor dari dalam diri yang akan mempengaruhi dan mendorong seseorang untuk menjadi seorang kader. Selain itu, peran pemerintah dalam menunjang penyediaan fasilitas posyandu, pelatihan dan pembinaan kader, insentif yang diberikan kepada kader dan dukungan dari masyarakat akan turut dapat meningkatkan minat individu-individu  untuk menjadi kader.

Kader merupakan tenaga kesehatan sukarela yang perannya tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebagai profesi sukarela, dukungan masyarakat setempat dan pemerintah sangat diperlukan. Pemerintah perlu untuk menjadikan profesi kader sebuah pilihan prestige di masyarakat dan bukan sekedar profesi sukarela. Menjadikan posisi kader sebagai bagian profesi yang dihargai dan sama pentingnya dengan tenaga kesehatan lainnya seperti dokter, perawat, dan bidan merupakan salah satu hal yang bisa dilakukan. Kaderisasi kader dan peningkatan kepedulian masyarakat untuk menjadi kader penting untuk proses regenerasi kader. Hal tersebut penting dilakukan untuk dilahirkannya srikandi-srikandi peduli kesehatan di masa depan.

Referensi:

gizi.depkes.go.id/wp-content/…/05/Kader-Posyandu-dan-Visi-Kita.pdf‎

http://witaparna.blogspot.com/2013/01/kader-posyandu.html

http://gizi.depkes.go.id/peran-kader-posyandu-di-wilayah-binaan-nice

Tulisan ini diikutsertakan pada lomba blog Wajah Sistem dan Regulasi Kesehatan di Indonesia

widget-lomba-blog-fpkr-30-plus-kecil

Advertisements

16 thoughts on “(Kader) Srikandi Kesehatan

  1. aamiin untuk doa-doanya, memang wajah kesehatan di Indonesia ini rupa-rupa bentuknya ya…tp hadirnya kader “srikandi kesehatan” ini memang bawa dampak yang luar biasa buat ngedorong emak-emak yang punya balita rajin periksa anaknya..bahkan ampe dijemputin segala…kereeen. TOP abisss. Sukses buat ngontesnya 🙂

Comments are closed.