Food, Nutrition, and Health

Gizi Buruk “(ketidaktauan + kemiskinan)”

Masih terngiang kata2 dr. Bona, salah satu dokter di Center Klinik Gizi  (CKG) Bogor pada saya saat pertama bertemu beliau , “Selamat bergabung… dan Selamat datang di dunia kemiskinan”. Itu katanya. Kata2 tersebut  sontak membuat kaget dalam hati,”Hmm.. kalimat yang sangat jujur meski miris mendengarnya.  Yaa.. Saat pertama kali ikut bergabung di Center Klinik Gizi ini, entah sudah berapa kali kalimat syukur padaNYA, yg telah terlantun, syukur karena telah melahirkan aku  dari rahim seorang ibu yang smart. Betapa tidak..disuguhi belasan  bayi dan balita dengan segala macam “kekurangan”nya, di CKG membuat kata syukur sering terlantun.  Marasmus, kwasiorkhor, bayi dan balita yg jauh dari berat badan yang seharusnya, balita kejang yang tak kunjung sembuh, dan bahkan balita dengan kelainan bawaan. Pernah juga, mendapat kabar kematian salah satu bayi yang minggu sebelumnya masih bertemu. Oh Thanks God, terimakasih telah menitipkan aq pada ibuku.

Awal berada di klinik ini,  semua terasa asing, aq memasuki dunia baru, dunia kemiskinan..betul kata dr. Bona. Inilah potret kemiskinan masyarakat, dalam lingkup kecil, dalam lingkup kesehatan, gizi buruk masih turut tumbuh dalam kepesatan dan kesesakan mal-mal dan factory outlet di  Kota Bogor. Miris memang, tapi itulah adanya.

Menurut hemat saya, faktor penyebabnya ada dua, yaitu ketidaktauan dan kemiskinan.  Ketidaktauan masyarakat, especially ‘MOM’  tentang bagaimana menjaga kesehatannya sendiri sebelum menjadi ibu, apa yang harus dipersiapkan untuk menunjang kehamilan yang baik dan sehat, penjagaan makanan selama kehamilan, persiapan prakelahiran hingga mampu memperlakukan anak selayaknya hak anak. (Bukan untuk menggurui,.. tapi cukup menjadi cambuk saja buatku).

Hal selanjutnya, yang menjadi akar masalah adalah kemiskinan. Kata lain, dari  ekonomi keluarga, uang dan uang, ..masalah klise memang. Uang menjadi penggerak kemiskinan untuk tidak miskin lagi, dengan uang bisa beli susu bwt anak, dengan uang bisa beli makanan yang layak dan sehat, dengan uang bisa beli obat ketika sakit. Ya, uang bukan segalanya, tapi tanpa uang  tidak bisa beli segalanya.  Meski terkadang dalam tampak nyata ada beberapa disebabkan karena kemiskinan yg “dibuat2”. Ya, jika dilihat berdasar tampak luar,  dandanan ibunya cukup berada, dengan perhiasan yang melekat di-dirinya.  Hmm.. teriak hatiku.. “Ibu , anakmu lebih butuh makanan”.

” Banyak ilmu tersebar setiap harinya, semoga hati dan jemari ikhlas tuk menyempatkan diri tuk berbagi. ”

Tugas masih banyak,

Mungkin butuh waktu panjang,

Tak perlu menunggu menjadi menteri kesehatan, 

Menjadi elemen-nya saja,

Merupakan bagian dari solusi,  

Advertisements